3 Desember 2009

Dakwah Salafiyyah dan Daulah Su'udiyah 3

Oleh Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahamad


Bagian terakhir dari Tiga Tulisan 3 /3


DAULAH SU'UDIYYAH MENGHORMATI PARA ULAMA SUNNAH
Ilmu memiliki keutamaan yang agung, dan sungguh Alloh telah meninggikan derajat para ulama yang mengamalkan agamanya, Alloh Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat" [Al- Mujadilah ; 11]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak" [Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jami'nya 5 /48 , Abu Dawud dalam Sunannya 3 /317 , dan Ibnu Majah dalam Sunannya 11 /81 dan dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 1 /83 dan Syaikh Al- Albani dalam Shahih Targhib 1 /105]
Masih banyak lagi dalil-dalil yang menyebutkan tentang kedudukan yang agung dari para ulama. [Lihat Urgensi Ilmu dan Ulama dalam majalah Al-Furqon Edisi 6 /III hal. 29-33]
Daulah Su'udiyyah sejak awal berdirinya hingga saat ini begitu menghormati dan memuliakan para ulama Sunnah dari dalam dan luar negeri Saudi. Hal ini diketahui oleh siapapun yang membaca dan melihat sejarah perjalanan daulah Su'udiyyah sejak berdirinya hingga sekarang.
Syaikh Musthafa Al-Adawi - seorang ulama dari Mesir- berkata : "Aku bersyukur kepada Alloh yang telah memberikan khusnul khatimah kepada Syaikhuna Al-Jalil Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i, karena seseorang yang meninggal dengan sebab sakit perut adalah syahid sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau dishalati di Masjidil Haram dan dikuburkan di Makkah Baladul Haram.
Tidak lupa aku mengucapkan syukur kepada pemerintah negeri Saudi Arabia -semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan- atas sambutan dan pelayanan mereka yang baik terhadap para ulama tanpa membeda-bedakan apakah dia itu warga negara Saudi atau warga negara Yaman, atau warga negara Mesir" [Wada'in Lisyakhina Al-Wadi'i yang dimuat oleh majalah Tauhid Kairo Mesir Tahun ke-30 Edisi 6 Jumadi Tsaniyyah 1422 H hal.62]
PERAN DAULAH SU'UDIYYAH DALAM DAKWAH ISLAMIYYAH
Daulah Su'udiyyah memiliki peran yang besar di dalam penyebaran dakwah Islamiyyah sekarang ini, setiap orang yang memiliki sedikit perhatian tentang dakwah Islamiyyah pasti akan mengetahui tentang hal ini, dan tidak mengingkari hal ini kecuali orang-orang yang dalam hatinya ada sesuatu.
Di antara saham yang besar dari daulah Su'udiyyah di dalam menyebarkan aqidah shahihah dan agama yang shahih ke seluruh penjuru dunia adalah mencetak dan menerbitkan kitab-kitab yang bermanfaat dan risalah-risalah yang berharga dari para ulama Sunnah dalam jumlah yang besar dan menyebarkannya ke seluruh dunia dengan beraneka ragam bahasa, mulai dari mushaf Al- Qur'an dan terjemahannya, kitab-kitab aqidah, hadits, fiqh, tarikh dan disiplin ilmu yang lainnya.
Usaha lain yang tidak kalah pentingnya di dalam dakwah adalah mendirikan lembaga- lembaga pendidikan yang mengajarkan Islam yang shahih di dalam dan luar negeri Saudi, lembaga-lembaga ini memiliki kesitimewaan dengan disediakannya semua sarana pendidikan seperti buku-buku dan yang lainnya secara gratis, bahkan diberikan juga beasiswa kepada para penuntut ilmu yang belajar di lembaga-lembaga tersebut.
Direktorat Ifta, Dakwah, dan Irsyad Saudi Arabia banyak mengirim para da'i ke seluruh dunia. Da'i-da'i tersebut berasal dari dalam dan luar negeri Saudi, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang pernah ditugasi oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz direktur Darul Ifta wad Da'wah untuk berdakwah di Mesir, Maroko dan Inggris" [Tarjamah Syaikh Al- Albani dari www.albani.org]
SYUBHAT DAN JAWABANNYA
Setelah membaca uraian di atas, barangkali terlontar sebagian pertanyaan, seperti.
[1]. Mengapa daulah Su'udiyyah dikatakan daulah Islamiyyah sedangkan sistem pemerintahannya adalah monarki (kerajaan)?
Kami katakan : Tidak diragukan lagi bahwa cara pemilihan pemimpin yang Islami adalah dengan penunjukkan sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu terhadap Umar Radhiyallahu 'anhu, atau dengan diserahkan kepada Ahli Syura sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu [Lihat Politik Islami dalam Al- Furqon Esisi 7/IV Rubrik Manhaj]
Jika pemimpin sebuah daulah dipilih dengan selain cara di atas maka para ulama sepakat tentang wajibnya taat kepada pemimpin tersebut (Lihat Fathul Baari 13 /7) sebagaimana para sahabat taat kepada Abdul Malik bin Marwan dan yang lainnya, demikian juga hal tersebut tidak menjadikan daulah Islamiyyah menjadi daulah kufriyyah.
Merupakan hal yang dimaklumi bahwa para ulama tarikh menyebut daulah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah adalah dua daulah Islamiyyah dalam keadaan cara pemilihan pemimpinnya tidak sebagaimana dilakukan oleh Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu dan Umar Radhiyallahu 'anhu.
Ketika daulah Turki Utsmani runtuh dianggap oleh para tokoh pergerakan bahwa itu adalah pertanda runtuhnya daulah Islamiyyah, dan semua orang tahu bahwa sistem pemerintahan daulah Turki Utsmani adalah monarki.
[2]. Mengapa daulah Su'udiyyah dikatakan daulah Islamiyyah sedangkan daulah Su'udiyyah pernah meminta bantuan kepada negara Amerika yang kafir?
Kami katakan : Meminta bantuan orang kafir tidak menjadikan pelakunya kafir, bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berangkat hijrah ke Madinah beliau mengupah seorang kafir sebagai penunjuk jalan. Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi penduduk Hunain, sebagian orang kafir Makkah seperti Shafwan bin Umayyah ikut dalam barisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya'la dan dikatakan oleh Haitsami dalam Majma' Zawaid 6 /180 Para perawinya perawi kitab shahih]
Tidak ada seorang pun dari para tokoh pergerakan yang mengkafirkan daulah Turki Utsmani karena bersekutu dengan Jerman pada waktu perang Dunia ke 1
Syaikhuna Al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad berkata : "Para ulama Saudi Arabia ketika membolehkan datangnya kekuatan asing ke Saudi Arabia karena darurat, hal ini seperti kasus seorang muslim yang meminta pertolongan kepada non muslim untuk membebaskan dirinya dari perampok yang hendak masuk ke rumahnya untuk melakukan tindakan kriminal di rumahnya dan pada keluarganya : Apakah kita katakan kepada orang yang terancam oleh para perampok ini : Kamu tidak boleh meminta pertolongan kepada orang kafir untuk menyelamatkan diri dari perampokan!? [Madariku Nazhar Fi Siyasah hal. 12]
Yang sangat mengherankan dari orang-orang yang mengkafirkan daulah Su'udiyyah dengan sebab meminta banuan Amerika bahwasanya mereka ini membolehkan diri-diri mereka meminta suaka politik ke negeri kafir, bahkan kemudian bermukim di negeri kafir, bahkan dengna resmi menjadi warga negara dari negeri kafir!
Bahkan banyak orang-orang yang mengkafirkan daulah Su'udiyyah dengan sebab meminta bantuan Amerika karena dharurat, sedangkan mereka meminta bantuan orang- orang kafir hanya sekerdar untuk menambah suara partai mereka agar menang dalam pemilihan!
PENUTUP
Di akhir tulisan ini ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan sebagai pelengkap bahasan diatas.
[1 ]. Kami katakan di atas bahwasanya daualah Su'udiyyah berdiri dengan landasan dakwah Salafiyyah, ini bukan berarti bahwa daulah adalah tujuan dakwah karena tujuan dakwah adalah untuk memberikan hidayah kepada manusia, menyelamatkan mereka dari kesesatan dan kesyirikan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. [Lihat tulisan kami Daulah Bukan Tujuan Dakwah majalah Al-Furqon Edisi 12/III Rubrik Manhaj]
[2 ]. Ketika kami mengatakan bahwa Saudi Arabia adalah negeri Islam bukan berarti kami mengatakan bahwa selain Saudi adalah darul kufur, karena jika masih nampak syi'ar-syi'ar Islam dalam suatu negeri maka negeri tersebut adalah darul Islam sebagaimana dikatakan oleh Al- Imam Qurthubi : "Adzan adalah tanda yang membedakan antara darul Islam dan darul Kufur" [Al- Jami Li Ahkamil Qur'an 6 /225 dan lihat tulisan kami Darul Islam dan Darul Kufur majalah Al-Furqon Edisi 9/IV Rubrik Manhaj]
[3]. Ketika kami mengatakan bahwa Saudi Arabia adalah negeri Islam bukan berarti negeri yang sempurna tidak ada kesalahan, kekurangan dan kemaksiatan ; bahkan kemaksiatan ada di negeri- negeri Islam sejak zaman para sahabat.
[4]. Kami tekankan lagi bahwa tulisan kami ini hanyalah sekerdar pembelaan kepada negeri pembela dakwah yang haq bukan untuk tendensi lain, dan kami hingga saat ini tidak punya hubungan resmi dengan satu pun dari pejabat Saudi Arabia. Yang kami harapkan dari tulisan kami adalah agar kita bisa mengambil ibrah bahwa mengikuti manhaj yang haq di dalam berdakwah akan membuahkan kebaikan di dunia dan akhirat.
[Pembahasan ini banyak mengambil faedah dari kitab Aqidah Syaikh Miuhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyyah oleh Syaikh Dr Shalih bin Abdullah bin Abdurrahman Al-Abud dan Atsaru Da'wah Salafiyyah Fi Tauhidil Mamlakah Arabiyyah Su'udiyyah oleh Dr Hamud bin Ahmad Ar- Ruhaili]
[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 09 Tahun V/Rabi'u Tsani 1427 /Mei 2006M. Penerbit Lajnah Dakwah Ma'had Al-Furqon, Alamat Maktabah Ma'had Al- Furqon, Srowo Sidayu Gresik- Jatim]