Pembicaraan kita kali ini tentang perkara yang sangat penting yaitu perkara fanatisme yang tercela serta pengaruhnya. Fanatisme merupakan penyakit kronis yang akan mematikan akal- akal manusia dan meruntuhkan dasar-dasar berpikir. Bahkan dapat membunuh jiwa sekali pun.
Fanatisme merupakan bencana pertama yang menimpa makhluk- makhluk. Iblis yang terlaknat yang merupakan makhluk pertama yang bermaksiat kepada Allah, ternyata penyebab kemaksiatannya adalah fanatisme golongan,
ketika iblis mengatakan:
خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
"Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan Engkau menciptakan dia dari tanah." (Al A'raf 12).
Ucapan ini merupakan fanatisme dan kesombongan terhadap jenisnya. Juga kaum Nuh dan umat-umat yang sesat yang mendustakan para Rasul serta golongan-golongan dan aliran- aliran agama dari kalangan Yahudi, Nashrani, Majusi dan kaum berhalaisme, tidaklah mereka dibinasakan kecuali oleh penyakit kronis ini, na'udzubillah.
Firqah-firqah sesat yang masih mengaku sebagai muslimin dulu dan sekarang, juga sama. Mereka tertimpa penyakit ini dalam aqidah dan ibadah mereka.
Kalau begitu, penyakit ini sungguh mematikan. Mematikan pribadi-pribadi maupun kelompok- kelompok yang mengajak untuk mendustakan para Rasul. Membawa mereka untuk berdusta dan menyeleweng dengan menyebarkan kesesatan yang membinasakan, pemikiran- pemikiran yang menyimpang. Maka wajib setiap kita meneliti secara pribadi atau pun kelompok kemungkinan adanya penyakit ini, kemudian menghindarkannya, serta melepaskan penyakit jelek yang terkutuk ini dari diri-diri kita.
Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memaafkan umat Islam dan menyembuhkan mereka dari penyakit yang mematikan ini dan semoga Allah menyatukan barisan mereka dan kalimat mereka.
Sesungguhnya Islam adalah agama yang haq yang diturunkan oleh Allah, penguasa yang haq, yang menciptakan langit dan bumi dengan haq. Allah yang menurunkan kitab dengan haq dan meletakkan timbangan. Allah yang memerangi kedhaliman dan musuh-musuh dan penyelewengan dengan berbagai macam bentuknya. Dari berbagai macam sumbernya yang semua itu atau hampir semuanya disebabkan oleh penyakit fanatisme ini.
Sesungguhnya fanatik terhadap agama tertentu, suku-suku ataupun pribadi-pribadi tertentu, atau madzhab- madzhab tertentu atau partai- partai tertentu, telah diperangi oleh Islam dengan sekeras- kerasnya. Yang demikian ini, karena fanatisme yang dimurkai tersebut adalah perkara yang terus mengalirkan bau busuk, merupakan sumber yang jelek dari segala macam penyakit yang mematikan. Inilah faktor-faktor yang mendorong partai-partai, golongan kafir yang dhalim untuk berdiri di depan para rasul dan segenap risalah-risalah mereka untuk mendustakannya, menentangnya, menuduhnya, membantahnya, melawannya dengan kebatilan.
مَا يُجَادِلُ فِي ءَايَاتِ اللَّهِ إِلاَّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَلاَ يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلاَدِ. كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَالأَحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ ﴿غافر: ٤-٥﴾
"Tidaklah membantah ayat-ayat Allah kecuali orang-orang kafir. Maka janganlah menipu kalian bolak-baliknya mereka di negerinya. Telah mendustakan sebelum mereka kaum Nuh dan umat setelahnya..." (Ghafir 4-5).
Apakah hujah (alasan) mereka dalam menentang dan melawan para Rasul sepanjang sejarah? Jawabannya: Hampir setiap umat berhujjah dengan hujjah yang sama yang merupakan tonggak setiap orang dhalim yang lemah dan fanatik yaitu: sebagaimana Allah kisahkan tentang kaum Nuh dalam surat Al-Mukminun 23-24.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُونَ. فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلاَّ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ َلأَنْزَلَ مَلاَئِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي ءَابَائِنَا الأَوَّلِينَ ﴿المؤمنون: ٢۳- ٢٤﴾
"Dan sungguh telah Kami utus Nuh kepada kaumnya, beliau berkata: Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada bagi kalian sembahan kecuali Dia. Tidakkah kalian mau bertakwa? Maka berkatalah kaumnya dari kalangan orang- orang kafir: Dia ini tidak lain kecuali manusia biasa seperti kalian. Hanya saja dia ingin diunggulkan di atas kalian. Kalau saja Allah kehendaki, tentu Dia akan menurunkan malaikat- malaikat. Sungguh kami tidak pernah mendengar yang demikian dari bapak-bapak kami yang terdahulu." (Al Mu`minun: 23-24).
Inilah alasan mereka, yaitu tidak datangnya kepada mereka apa yang dibawa oleh Nabi Nuh alaihis salam melalui tokoh-tokoh pimpinan mereka. Seandainya al- haq itu datang kepada mereka melalui tokoh-tokoh pimpinan mereka tentulah mereka menerimanya, akan tetapi al-haq itu justru datang melalui orang lain. Itulah yang disebut fanatik. Allah Ta'ala berfirman:
وَجَعَلُوا الْمَلاَئِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ. وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ مَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ. أَمْ ءَاتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُونَ. بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا ءَابَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ. وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلاَّ قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا ءَابَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى ءَاثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ ﴿الزخروف: ١۹-٢۳﴾
"Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban. Dan mereka berkata: "Jikalau Allah yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat)." Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka. Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al- Qur`an, lalu mereka berpegang dengan kitab itu? Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang- orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka." Dan demikianlah. Kami tidak mengutus sebelum kami seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka." (Az-Zukhruf: 19-23)
Sikap fanatik terhadap para tokoh pimpinan dan pengganti mereka walaupun padanya terdapat kejelekan dan berkumpul di atasnya berbagai kesesatan dan kekufuran. Allah Ta'ala berfirman:
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الآخِرَ وَلاَ تَعْثَوْا فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ. فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ. وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنْ مَسَاكِنِهِمْ وَزَيَّنَ لَهُمَ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ. وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأَرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ. فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ ﴿العنكبوت: ۳٦-٤۰﴾
"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu'aib, maka ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah. Harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi membuat kerusakan." Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat- tempat tinggal mereka. Dan (juga) kaum 'Aad dan Tsamud. Dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaithan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah). Sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam. Dan (juga) Karun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti- bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang- orang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing- masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali- kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (Al-Ankabut: 36-40)
Akibat Fanatisme
(Dengan keterangan di atas), maka apakah sesungguhnya akibat fanatisme, taklid, penentangan dan kebohongan?
Sesungguhnya Allah Jalla wa 'Ala telah menyebutkan berbagai akibat buruk segala kejelekan tersebut dalam beberapa surat dan kisah-kisah yang banyak di dalam Al-Quranul Karim agar ummat ini dapat mengambil pelajaran berharga dari akibat dan kehancuran yang dialami ummat- ummat sebelumnya. Dan agar ummat ini benar-benar waspada jangan sampai terjatuh ke dalam perkara yang ummat terdahulu juga terjatuh padanya, sehingga mereka akan menerima akibat yang sama seperti orang-orang terdahulu. (Padahal) sunnah Allah yang berlaku pada hamba- hamba-Nya tidak akan berubah dan berganti, sebagai bukti keadilan dan hikmah Allah, dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Mempunyai Hikmah, Hakim Yang Maha Adil.
Allah Ta'ala berfirman dalam surat Al-'Ankabut sesudah menyebutkan kisah Nabi Nuh 'alaihissalam dan kaumnya, Nabi Ibrahim bersama kaumnya dan kisah Nabi Luth dengan kaumnya. Kisah-kisah tersebut mengandung berita tentang kehancuran ummat-ummat yang mendustakan agama Allah, fanatik terhadap para pimpinan mereka dan menentang dakwah yang haq yang datang kepada mereka. Perhatikan firman Allah Ta'ala di dalam surat Al-'Ankabut 36-40 di atas.
Inilah akibat fanatisme di dunia, kebinasaan dan kehancuran, wal 'iyadzu billah. Bencana- bencana yang menimpa umat-umat yang tersebut di ayat tadi dalam surat Al-Ankabut. Mereka seluruhnya mendapatkan akibat yang sama yaitu berakhir dengan bencana dan malapetaka. Wal iyadzu billah.
Adapun akibat-akibat fanatisme dan penentangan di akhirat adalah sebagai berikut:
Pertikaian mereka yang fanatik terhadap tokoh-tokohnya dan antara mereka.
Allah kisahkan tentang mereka dalam surat Saba` ayat 31-33:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ نُؤْمِنَ بِهَذَا الْقُرْءَانِ وَلاَ بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ الْقَوْلَ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلاَ أَنْتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ. قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا أَنَحْنُ صَدَدْنَاكُمْ عَنِ الْهُدَى بَعْدَ إِذْ جَاءَكُمْ بَلْ كُنْتُمْ مُجْرِمِينَ. وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَجَعَلْنَا الأَغْلاَلَ فِي أَعْنَاقِ الَّذِينَ كَفَرُوا هَلْ يُجْزَوْنَ إِلاَّ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴿سباء: ۳١-۳۳﴾
"Dan orang-orang kafir berkata: "Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al-Qur`an ini dan tidak (pula) kepada kitab sebelumnya." Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang- orang yang dhalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebagian mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang- orang yang menyombongkan diri: "Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang- orang yang beriman." Orang- orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: "Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa." Dan orang- orang yang dianggap lemah berkata kepada orang- orang yang menyombongkan diri: "(Tidak) sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi- Nya." Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat adzab, dan Kami pasang belenggu di leher orang- orang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan."
Mereka inilah korban-korban fanatik buta dan taqlid serta mengekor hawa nafsu. Allah berfirman dalam ayat lain surat Ghafir ayat 47-48:
وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ. قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ ﴿غافر: ٤٧-٤۸﴾
"Dan ingatlah ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang- orang yang menyombongkan diri, sesungguhnya kami adalah pengikut- pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian adzab api neraka, berkatalah orang-orang yang menyombongkan diri "Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka" karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-Nya."
Dan dalam surat Al-Baqarah ayat 165-167 :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ. إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الأَسْبَابُ. وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ ﴿البقرة: ١٦٥- ١٦٧﴾
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan- Nya (niscaya mereka menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang- orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang- orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka."
Juga firman Allah Ta'ala dalam surat Al-Ahzab 64-68:
إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا. خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لاَ يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلاَ نَصِيرًا. يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَالَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولاَ. وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلاَ. رَبَّنَا ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا ﴿الأحزاب: ٦٤-٦۸﴾
"Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul." Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, berilah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar."
Inilah dia, akhir dari perjalanan orang-orang kafir yang sesat yang telah dibawa oleh fanatisme golongan untuk mendustakan para Rasul dan membawa kepada penentangan serta peperangan, bahkan kepada seluruh kesulitan- kesulitan yang mereka arahkan terhadap para Rasul. Maka akhir dari perjalanan mereka di hari kiamat adalah saling melaknat sesama mereka dan masing- masing kelompok baik dari kalangan pengikut maupun yang diikuti, berharap agar Allah melipat gandakan adzab bagi kelompok shahabatnya, kekasihnya dan yang (dahulu) dicintainya. Padahal mereka di dunia saling mendukung dan saling membela dosa sesama kelompoknya dalam melawan kebenara. Inilah akhir mereka yang amat memilukan. Sungguh sangat disayangkan.
Ketahuilah bagi setiap orang yang fanatik terhadap kelompok atau pribadi, sama saja apakah masih mengaku Islam atau pun tidak, akan mendapatkan bagian dari adzab ini dan bagian dari celaan ini. Mereka akan saling membantah dan menuduh kemudian masing-masingnya berharap, kalau saja ia mengikuti jalan Rasul. Allah Ta'ala berfirman:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلاَنًا خَلِيلاً. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإِنْسَانِ خَذُولاً ﴿الفرقان: ٢٧-٢۹﴾
"[27 ] Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang dhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. [28 ] Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadi si fulan itu teman akrab(ku). [29 ] Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al- Qur`an sesudah Al-Qur`an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia." (Al-Furqan: 27-29).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَحِيصٍ ﴿إبراهيم: ٢١﴾
"Dan mereka semuanya (di padang mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami adzab Allah (walaupun) sedikit saja?" Mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar, sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri." (Ibrahim: 21)
Mereka tidak akan mencukupi pengikutnya sedikit pun, tidak sesaat, apalagi kurang dari itu. Bahkan tidak pula memberikan sedikit keringanan dari adzab Allah. Apakah Fir'aun dapat memberikan sesuatu pada pengikutnya?! Apakah Abu Jahl dapat membela pengikutnya?! Apakah Namrud dapat mencukupi pengikutnya?! Apakah tokoh- tokoh sesat penganjur kesesatan, apakah dapat mereka membela pengikutnya sedikit saja?! Tidak!!!
Inilah pertikaian yang Allah kisahkan antara para pengikut dengan ikutannya.
Pertikaian antara yang menyembah dan yang disembah.
Allah Ta'ala berfirman:
وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِي عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلاَّ أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلاَ تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿إبراهيم: ٢٢﴾
"Dan berkatalah syaithan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali- kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dulu." Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu mendapat siksaan yang pedih." (Ibrahim: 22).
Inilah akhir dari hubungan antara setan dan manusia. Setan yang telah menyesatkan mereka dari awal sampai akhirnya. Kecuali orang-orang yang Allah selamatkan dari jaring-jaringnya, yaitu hamba-hamba-Nya yang ikhlas.
Dikatakan, bahwa di saat itu setan berdiri, berkhutbah di hadapan mereka dengan ucapan ini. Dia berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri darinya. Maka mereka meminta tolong, tapi setan-setan itu tidak dapat membelanya. Dan ia pun tidak mendapati seorang penolong pun dari mereka.
Allah Ta'ala berfirman:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلاَئِكَةِ أَهَؤُلاَءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ. قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ. فَالْيَوْمَ لاَ يَمْلِكُ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا وَنَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿سباء: ٤۰-٤٢﴾
"Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: "Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?" Malaikat- malaikat itu menjawab: "Maha suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu." Maka padi hari ini sebagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudlaratan kepada sebagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang-orang yang dhalim: "Rasakanlah olehmu adzab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu." (Saba`: 40-42)
Para malaikat yang diibadahi selain Allah pun berlepas diri (akan tetapi mereka terjaga, tidak akan berbuat demikian, yakni tidak rela diibadahi), hanya saja setanlah yang telah menyesatkan manusia, ia menghiasi pandangan manusia tentang baiknya beribadah kepada para malaikat tersebut, dengan mengatakan kepada manusia: "Sesungguhnya para malaikat itu adalah anak- anak perempuan Allah (Maha Suci Allah dari yang mereka sifatkan, pent), dan mereka juga berhak untuk diibadahi." Akhirnya mereka mendirikan buat para malaikat itu monumen-monumen dan simbol-simbol lalu mengibadahinya, apakah peribadatan seperti ini merupakan peribadatan kepada malaikat? Tidak, sama sekali tidak!! Maka laknat Allah-lah bagi mereka yang berbuat dusta dan kedhaliman.
Allah Ta'ala berfirman:
وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ. قَالَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ رَبَّنَا هَؤُلاَءِ الَّذِينَ أَغْوَيْنَا أَغْوَيْنَاهُمْ كَمَا غَوَيْنَا تَبَرَّأْنَا إِلَيْكَ مَا كَانُوا إِيَّانَا يَعْبُدُونَ. وَقِيلَ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَرَأَوُا الْعَذَابَ لَوْ أَنَّهُمْ كَانُوا يَهْتَدُونَ
"Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka seraya berkata: "Di manakah sekutu- sekutu-Ku yang dahulu kalian katakan?" Berkatalah orang- orang yang telah tetap hukuman atas mereka: "Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu; kami telah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat. Kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada Engkau, mereka sekali-kali tidak menyembah kami." Dikatakan (kepada mereka): "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu", lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka, dan mereka melihat adzab. (Mereka itu berkeinginan) kiranya mereka dahulu menerima petunjuk." (Al-Qashash: 62-64)
Yakni, mereka berangan-angan seandainya dahulu mereka berjalan di atas petunjuk; ini tentu saja merupakan akhir yang sangat menyakitkan, bencana dan malapetaka yang sangat besar bagi fanatisme dan taklid buta, semua itu sekaligus merupakan peringatan bagi ummat Islam agar menyelamatkan dirinya dari kejahatan yang merata dimana- mana dan musibah yang membinasakan.
Allah Tabaraka wa Ta'ala memaparkan kepada kita kisah- kisah tersebut agar kita dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah itu; seperti kisah para Nabi dengan ummat mereka, dan keterangan tentang pertentangan antara mereka. Semua itu diceritakan kepada kita agar kita mengambil pelajaran dari kisah tersebut sekaligus nasehat dan peringatan agar jangan sampai kita terjatuh ke dalam jurang berbahaya yang ummat-ummat sebelum kita terjatuh ke dalamnya lalu binasa. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah Ta'ala:
وَكُلاًّ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ ﴿هود: ١٢۰﴾
"Dan semua kisah dari Rasul- Rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (Hud: 120).
Adakah ummat ini mengambil faedah dari adzab yang menimpa umat yang dhalim dahulu?
Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa sesungguhnya kebanyakan ummat ini justru terjatuh ke dalam penyakit fanatisme dan taklid buta baik dalam akidah, ibadah, politik, akhlak maupun adat istiadat. Seolah-olah Al-Qur`an itu tidak mencukupi mereka dalam perkara yang dekat maupun yang jauh. Bahkan mereka anggap seolah-olah Al-Qur`an itu tidak pernah mengajak mereka berdialog, tidak membuka penglihatan mereka, bahkan tidak pula memperingatkan mereka ketika menyebutkan kejelekan-kejelekan umat-umat sebelumnya, baik akidah maupun akhlak mereka. Dan apabila telah jelas bagaimana hal-hal tersebut menjadi sebab kehancuran ummat tersebut dan kebinasaan mereka di dunia, serta sebab kesengsaraan abadi bagi mereka juga adzab yang dahsyat yang kekal di akhirat. Maka kamu lihat mereka melakukan segala kejelekan tanpa perduli, takut, apalagi malu terhadap siapapun.
Betapa banyak peringatan yang datang kepada mereka, dan betapa banyak musibah yang menimpa mereka. Namun mereka tidak mengambil pelajaran, bimbingan dan nasehat yang dapat mendorong mereka untuk kembali kepada Allah, lalu berpegang kepada Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam; menjauhi perbuatan-perbuatan dan akidah yang rusak tersebut, serta menjauhi sikap fanatisme yang mencabik-cabik mereka dengan sejelek-jeleknya dan menyebabkan orang-orang kafir berkuasa atas mereka dalam bidang apapun. Dan sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitakan kepada kita hal-hal yang akan membinasakan sebagian besar umat ini, yakni bahwa umat ini akan mengikuti sunnah-sunnah (jalan hidup dan prinsip) ummat- ummat sebelumnya seperti bulu anak panah dimana lembar yang satu mengikuti yang lainnya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Umat ini mengikuti sunnah umat sebelumnya
Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
٧۳١۹﴾لاَ يَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي مَأْخَذَ الْقُرُونِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ﴿البخاري:
"Tidaklah akan terjadi hari kiamat sampai umatku mengambil apa-apa yang diambil oleh orang- orang sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta." (HSR. Bukhari 7319).
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radliyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَتَتَّبِعَنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
"Sungguh kalian akan benar- benar mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kalian pun benar-benar akan memasukinya pula. Para shahabat berkata: "Wahai Rasulullah, (apakah mereka itu) orang Yahudi dan Nashara?" Rasulullah bersabda lagi: "Siapa lagi (kalau bukan mereka)?" (HSR. Bukhari 7220 , dan Muslim 2669).
Dari Abu Waqid Al-Laitsi radliyallahu 'anhu, ia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menuju Hunain, sedangkan kami waktu itu baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Dan waktu itu, orang- orang musyrikin mempunyai sebuah pohon sidr (bidara, red) yang mereka selalu i'tikaf (beribadah) dan menggantungkan senjata- senjata mereka di pohon tersebut. Pohon tersebut dinamakan Dzatu Anwath. Kami pun melintas di dekat pohon itu dan berkata: "Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana halnya kaum musyrikin juga mempunyai Dzatu Anwath." Maka beliau bersabda:
اللهُ أَكْبَرُ. إِنَّهَا السُّنَنُ. قُلْتُمْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوسَى: ﴿اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُم آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُم قَوْمٌ تَجْهَلُونَ﴾ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُم.
"Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Sungguh ini adalah sunnah- sunnah, yang kalian ucapkan ini. Demi Zat yang jiwaku di Tangan- Nya, sebagaimana yang diucapkan oleh Bani Israil kepada Musa: Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka juga mempunyai sesembahan, (lalu Nabi Musa) berkata: "Sesungguhnya kalian orang-orang yang bodoh." Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti sunnah orang- orang sebelum kalian." (HSR. Ahmad, At-Tirmidzi dan beliau menshahihkannya, dan lain-lain, lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi 2285).
Selengkapnya...
3 Januari 2010
Bahaya Fanatisme Golongan
7 Desember 2009
Hakikat Tasawuf 3
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim
Sekte-Sekte Dalam Ajaran Tasawuf
(*) Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh DR. Muhammad bin Rabi' Al Madkhali dalam kitabnya "Haqiqat Ash Shufiyyah" (hal. 18-21),
dengan sedikit perubahan. Kita dapat membagi ajaran tasawuf yang ekstrem ke dalam tiga sekte: Pertama, sekte Al Isyraqi, sekte ini didominasi oleh ajaran filsafat bersama sifat zuhud. Yang dimaksud dengan Al Isyraqi (penyinaran) adalah penyinaran jiwa yang memancarkan cahaya dalam hati, sebagai hasil dari pembinaan jiwa dan penggemblengan ruh disertai dengan penyiksaan badan untuk membersihkan dan menyucikan ruh yang ajaran ini sebenarnya ada pada semua sekte-sekte tasawuf, akan tetapi ajaran sekte ini cuma sebatas pada penyimpangan ini dan tidak sampai membawa mereka kepada ajaran Al Hulul (menitisnya Allah 'azza wa jalla ke dalam diri makhluk-Nya) dan Wihdatul Wujud (bersatunya wujud Allah 'azza wa jalla dengan wujud makhluk/Manunggaling Gusti ing Kawulo - Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan), meskipun demikian ajaran sekte ini bertentangan dengan ajaran islam, karena ajaran ini diambil dari ajaran agama-agama lain yang menyimpang, seperti agama Budha dan Hindu. Kedua, sekte Al Hulul, yang berkeyakinan bahwa Allah 'azza wa jalla bisa bertempat/menitis dalam diri manusia -Maha Suci Allah 'azza wa jalla dari sifat ini-. Keyakinan ini diserukan oleh beberapa tokoh-tokoh ekstrem ahli Tasawuf, seperti Hasan bin Manshur Al Hallaj, yang karenanya para Ulama memfatwakan kafirnya orang ini dan dia harus dihukum mati, yang kemudian dia dibunuh dan disalib -Alhamdulillah 'azza wa jalla- pada tahun 309 H. Dan di dalam Sya'ir yang dinisbatkan kepadanya dia berkata (kitab At Thawasiin, tulisan Al Hallaj hal.130): Maha suci (Allah 'azza wa jalla) yang Nasut (unsur/sifat kemanusiaan)-Nya telah menampakkan rahasia cahaya Lahut (unsur/sifat ketuhanan)- Nya yang menembus Lalu Tampaklah Dia dengan jelas pada (diri) makhluk-Nya dalam bentuk seorang yang sedang makan dan sedang minum Hingga (sangat jelas) Dia terlihat oleh makhluk- Nya seperti (jelasnya) pandangan alis mata dengan alis mata Dalam sya'ir lain (kitab Al Washaaya, tulisan Ibnu 'Arabi (hal.27), -Maha Suci Allah 'azza wa jalla dari sifat-sifat kotor yang mereka sebutkan-) dia berkata: Aku adalah yang mencintai dan yang mencintai adalah aku kami adalah dua ruh yang bertempat di dalam satu jasad Maka jika kamu melihatku (berarti) kamu melihat Dia Dan jika kamu melihat Dia (berarti) kamu melihat kami Memang Al Hallaj -seorang tokoh besar dan populer di kalangan orang-orang ahli tasawuf ini- adalah penganut sekte Al Hulul, dia meyakini dualisme hakikat ketuhanan dan beranggapan bahwa Al Ilah (Allah 'azza wa jalla) memiliki dua tabiat yaitu: Al Lahut (unsur/sifat ketuhanan) dan An Nasut (unsur/sifat kemanusiaan/kemakhlukan), yang kemudian Al Lahut menitis ke dalam An Nasut, maka ruh manusia -menurut Al Hallaj- adalah Al Lahut ketuhanan yang sebenarnya dan badan manusia itu adalah An Nasut. Kemudian meskipun bandit besar ini telah dihukum mati karena kezindiqannya -sehingga sebagian orang-orang ahli tasawuf menyatakan berlepas diri darinya -, tetap saja ada orang-orang ahli tasawuf yang menganggapnya sebagai tokoh besar ahli tasawuf, bahkan mereka membenarkan keyakinan sesat dan perbuatannya, dan mengumpulkan serta membukukan ucapan-ucapan kotornya, mereka itu di antaranya adalah Abul 'Abbas bin 'Atha' Al Baghdadi, Muhammad bin Khafif Asy Syirazi dan Ibrahim An Nashrabadzi, sebagaimana hal tersebut dinukil oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam kitab beliau Tarikh Al Baghdad (8 /112). Ketiga, sekte Wihdatul Wujud, yaitu keyakinan bahwa semua yang ada pada hakikatnya adalah satu dan segala sesuatu yang kita lihat di alam semesta ini tidak lain merupakan perwujudan/penampakan Zat Ilahi (Allah 'azza wa jalla) - maha suci Allah 'azza wa jalla dari segala keyakinan kotor mereka-. Dedengkot sekte ini adalah Ibnu 'Arabi Al Hatimi Ath Thai (Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad bin 'Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath Thai Al Hatimi Al Mursi Ibnu 'Arabi, yang binasa pada tahun 638 H dan dikuburkan di Damaskus. (Lihat Siar Al A'lam An Nubala' tulisan Imam Adz Dzahabi 16 /354 ) Dalam kitabnya Al Futuhat Al Makkiyah (seperti yang dinukilkan oleh DR. Taqiyuddin Al Hilali dalam kitabnya Al Hadiyyatul Haadiyah hal. 43) dia menyatakan keyakinan kufur ini dengan ucapannya: Hamba adalah tuhan dan tuhan adalah hamba duhai gerangan, siapakah yang diberi tugas (melaksanakan syariat)? Jika kau katakan: hamba, maka dia adalah tuhan Atau kau katakan: tuhan, maka mana mungkin tuhan diberi tugas?! Dan dalam kitabnya yang lain Fushushul Hikam (hal.192) dia ngelindur: "Sesungguhnya orang- orang yang menyembah anak sapi, tidak lain yang mereka sembah kecuali Allah." Meskipun demikian, orang-orang ahli Tasawuf malah memberikan gelar-gelar kehormatan yang tinggi kepada Ibnu 'Arabi, seperti gelar Al 'Arif Billah (orang yang mengenal Allah 'azza wa jalla dengan sebenarnya), Al Quthb Al Akbar (pemimpin para wali yang paling agung), Al Misk Al Adzfar (minyak kesturi yang paling harum), dan Al Kibrit Al Ahmar (Permata yang merah berkilau), padahal orang ini terang- terangan memproklamirkan keyakinan Wihdatul Wujud dan keyakinan-keyakinan kufur dan rusak lainnya, seperti pujian dia terhadap Firaun dan keyakinannya bahwa Firaun mati di atas keimanan, celaan dia terhadap Nabi Harun 'alaihi salam yang mengingkari kaumnya yang menyembah anak sapi -yang semua ini jelas-jelas bertentangan dengan nash Al Quran-, dan keyakinan dia bahwa kafirnya orang-orang Nasrani adalah karena mereka hanya mengkhususkan Nabi 'Isa 'alaihi salam sebagai Tuhan, yang kalau seandainya mereka tidak mengkhususkannya maka mereka tidak dikafirkan. Beberapa Contoh Penyimpangan dan Kesesatan Ajaran Tasawuf Berikut kami akan nukilkan beberapa ucapan dan keyakinan sesat dan kufur dari tokoh- tokoh yang sangat diagungkan oleh orang-orang ahli tasawuf, yang menunjukkan besarnya penyimpangan ajaran ini dan sangat jauhnya ajaran ini dari petunjuk Al Quran dan As Sunnah. Pertama, Ibnu Al Faridh yang binasa pada tahun 632 H, tokoh besar sufi yang menganut paham Wihdatul Wujud dan meyakini bahwa seorang hamba bisa menjadi Tuhan, bahkan - yang lebih kotor lagi- dia menggambarkan sifat-sifat Tuhannya seperti sifat-sifat wanita, sampai-sampai dia menganggap bahwa Tuhannya telah menampakkan diri di hadapan Nabi Adam 'alaihi salam dalam bentuk Hawwa (istri Nabi Adam 'alaihi salam)?! Untuk lebih jelas silakan merujuk pada kitab Hadzihi Hiya Ash Shufiyyah (hal. 24-33), tulisan Syaikh Abdurrahman al Wakil yang menukil ucapan-ucapan kufur Ibnu Al Faridh ini. Kedua, Ibnu 'Arabi dalam kitabnya Fushushul Hikam yang berisi segudang kesesatan dan kekufuran. Dalam kitabnya ini dia mengatakan bahwa Rasullah shallallahu 'alaihi wa sallam lah yang memberikan padanya kitab ini, dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya: "Bawalah dan sebarkanlah kitab ini pada manusia agar mereka mengambil manfaat darinya", kemudian Ibnu 'Arabi berkata: "Maka aku pun (segera) mewujudkan keinginan (Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) itu seperti yang beliau shallallahu 'alaihi wa sallam tentukan padaku tidak lebih dan tidak kurang." Kemudian Ibnu 'Arabi berkata: (Kitab ini) dari Allah, maka dengarkanlah! dan kepada Allah kembalilah! (Fushushul Hikam, dengan perantaraan kitab Hadzihi Hiya Ash Shufiyyah hal. 19). Ketiga, At Tilmisani, seorang tokoh besar tasawuf, ketika dikatakan padanya bahwa kitab rujukan mereka Fushushul Hikam bertentangan dengan Al Quran, dia malah menjawab, "Seluruh isi Al Quran adalah kesyirikan, dan sesungguhnya Tauhid hanya ada pada ucapan kami." Maka dikatakan lagi kepadanya, "Kalau kalian mengatakan bahwa seluruh yang ada (di alam semesta) adalah satu (esa), mengapa seorang istri halal untuk disetubuhi, sedangkan saudara wanita haram (disetubuhi)?" Maka dia menjawab, "Menurut kami semuanya (istri dan saudara wanita) halal (untuk disetubuhi), akan tetapi orang-orang yang terhalang dari penyaksian keesaan seluruh alam mengatakan bahwa saudara wanita haram (disetubuhi), maka kami pun ikut-ikut mengatakan haram." (Dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, lihat Majmu'ul Fatawa 13 /186 ). Keempat, Abu Yazid Al Busthami, yang pernah berkata: "Aku heran terhadap orang yang telah mengenal Allah, mengapa dia tetap beribadah kepada- Nya?!" (Dinukil oleh Abu Nu'aim Al Ashbahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya' 10 /37 ). Dia juga berkata, "Sungguh aku telah menghimpun amalan ibadah seluruh penghuni tujuh langit dan tujuh bumi, kemudian aku masukkan ke dalam bantal dan aku letakkan di bawah pipiku." (Hilyatul Auliya' 10 /35-36). Kelima, Abu Hamid Al Ghazali, seorang yang termasuk tokoh- tokoh ahli tasawuf yang paling besar dan tenar, di dalam kitabnya Ihya 'Ulumud Din ketika dia membicarakan tingkatan- tingkatan dalam tauhid, dia mengatakan, "Dalam Tauhid ada empat tingkatan:...Tingkatan yang kedua: Dengan membenarkan makna lafadz di dalam hati sebagaimana yang dilakukan oleh umumnya kaum muslimin, dan ini adalah keyakinannya orang-orang awam?! Tingkatan yang ketiga: Mempersaksikan makna tersebut dengan jalan Al Kasyf (penyingkapan tabir) melalui perantaraan cahaya Al Haq (Allah 'azza wa jalla ) dan ini adalah tingkatan Al Muqarrabin, yaitu dengan seseorang melihat banyaknya makhluk (di alam semesta), akan tetapi dia melihat semuanya bersumber dari Zat Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa, dan tingkatan yang keempat: Dengan tidak menyaksikan di alam semesta ini kecuali satu zat yang esa, dan ini merupakan penyaksian para Shiddiqin, dan diistilahkan oleh orang ahli tasawuf dengan sebutan: Al Fana' Fit Tauhid (telah melebur dalam tauhid/pengesaan) karena dia tidak melihat kecuali satu, bahkan dia tidak melihat dirinya sendiri... Dan inilah puncak tertinggi dalam tauhid. Jika anda bertanya bagaimana mungkin seseorang tidak melihat kecuali hanya satu saja, padahal dia melihat langit, bumi dan semua benda-benda yang benar-benar nyata, dan itu banyak sekali? dan bagaimana sesuatu yang banyak menjadi hanya satu? Ketahuilah bahwa ini adalah puncak ilmu Mukasyafat (tersingkapnya tabir) (maksudnya adalah cerita bohong orang-orang ahli Tasawuf yang bersumber dari bisikan jiwa dan perasaan mereka, yang sama sekali tidak berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, -pen), dan rahasia- rahasia ilmu ini tidak boleh ditulis dalam sebuah kitab, karena orang-orang yang telah mencapai tingkatan Ma'rifah berkata bahwa membocorkan rahasia ketuhanan adalah kekafiran. Sebagaimana seorang manusia dikatakan banyak bila anda melihat rohnya, jasad, sendi-sendi, urat-urat, tulang belulang dan isi perutnya, padahal dari sudut pandang lain dikatakan dia adalah satu manusia." (Lihat kitab Ihya 'Ulumud Din 4 / 241-242 ). Al Ghazali juga berkata, "Pandangan terhadap tauhid jenis pertama, yaitu pandangan tauhid yang murni, dengan pandangan ini, Anda pasti akan dikenalkan bahwa Dialah yang bersyukur dan disyukuri, dan Dialah yang mencintai dan dicintai, ini adalah pandangan orang yang meyakini bahwa tidaklah ada di alam semesta ini melainkan Dia (Allah 'azza wa jalla)." (Ibid 4 /83). Keenam, Asy Sya'rani, seorang tokoh besar tasawuf yang telah menulis sebuah kitab yang berjudul Ath Thabaqat Al Kubra, yang memuat biografi tokoh- tokoh ahli tasawuf dan kisah- kisah (kotor) yang dianggap oleh orang-orang ahli tasawuf sebagai tanda kewalian. Di antaranya kisah seorang wali(?) yang bernama Ibrahim Al 'Uryan, orang ini bila naik mimbar dan berceramah selalu dalam keadaan telanjang bulat!? (Lihat At Thabaqat Al Kubra 2 /124). Kisah lainnya tentang seorang (wali Setan) yang bernama Syaikh Al Wuhaisyi yang bertempat tinggal di rumah pelacuran, yang mana setiap ada orang yang selesai berbuat zina, dan hendak meninggalkan tempat tersebut, dia berkata kepadanya: "Tunggulah sebentar hingga aku selesai memberikan syafaat untukmu sebelum engkau meninggalkan tempat ini!?" Dan diantara kisah tentang orang ini: bahwa setiap kali ada seorang pemuka agama setempat sedang menunggang keledai, dia memerintahkannya untuk segera turun, lalu berkata kepadanya: "Peganglah kepala keledaimu, agar aku dapat melampiaskan birahiku padanya!?" (Lihat At Thabaqat Al Kubra 2 / 129-130 ). Penutup Setelah pembahasan di atas, maka jelaslah bagi kita semua bahwa ajaran tasawuf adalah ajaran sesat yang menyimpang sangat jauh dari petunjuk Al Quran dan As Sunnah, yang dengan mengamalkan ajaran ini - na'udzu billah min dzalik- seseorang bukannya makin dekat kepada Allah 'azza wa jalla, tapi malah semakin jauh dari-Nya, dan hatinya bukannya makin bersih, akan tetapi malah semakin kotor dan penuh noda. Kemudian jika timbul pertanyaan, "Kalau begitu usaha apa yang harus kita lakukan dalam upaya untuk menyucikan jiwa dan hati kita?" Maka jawabannya adalah sederhana sekali, yaitu, Pelajari dan amalkan syariat islam ini lahir dan batin, maka dengan itulah jiwa dan hati kita akan bersih (untuk lebih jelasnya silakan pembaca menelaah kitab Manhajul Anbiya' fii Tazkiyatin Nufus tulisan Syaikh Salim Al Hilali, yang ditulis khusus untuk menjelaskan masalah penting ini), karena di antara tugas utama yang dibawa para Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam adalah menyucikan jiwa dan hati manusia dengan mengajarkan kepada mereka syariat Allah 'azza wa jalla, sebagaimana firman Allah: لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali 'Imran: 164) Maka orang yang paling banyak memahami dan mengamalkan petunjuk Al Quran dan As Sunnah dengan baik dan benar, maka dialah orang yang paling bersih dan suci hati dan jiwanya dan dialah orang yang paling bertakwa kepada Allah 'azza wa jalla, karena semua orang berilmu sepakat mengatakan bahwa: "Penghalang utama yang menghalangi seorang manusia untuk dekat kepada Allah 'azza wa jalla adalah (kekotoran) jiwanya." (Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Igatsatul Lahafan dan Al Fawa'id). Oleh karena inilah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempermisalkan petunjuk dan ilmu yang Allah turunkan kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dengan air hujan yang Allah turunkan dari langit, karena sebagaimana fungsi air hujan adalah untuk menghidupkan, membersihkan dan menumbuhkan kembali tanah yang tandus dan gersang, maka demikian pula petunjuk dan ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah untuk menghidupkan, menyucikan dan menumbuhkan hati manusia, dalam hadits Abi Musa Al 'Asy'ari radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضاً... الحديث "Sesungguhnya permisalan dari petunjuk dan ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi..." (HSR Imam Al Bukhari 1 /175 - Fathul Bari dan Muslim no. 2282) Semoga tulisan ini Allah 'azza wa jalla jadikan bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi semua orang yang membacanya.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا الحمد لله رب العالمين.
Sumber: Muslim.or.id
Selengkapnya...
Hakikat Tasawuf 2
Prinsip-Prinsip Dasar Ajaran Tasawuf yang Menyimpang dari Petunjuk Al Quran dan As Sunnah
(*) Ringkasan dari satu pembahasan yang ditulis oleh Syaikh Shalih Al Fauzan dalam kitabnya "Haqiqat At Tashawwuf", pembahasan: Mauqif Ash Shufiyyah Min Al 'Ibadah wa Ad Din (hal. 17-38) dengan sedikit perubahan.
Orang-orang ahli tasawuf - khususnya yang ada di zaman sekarang- mempunyai prinsip dasar dan metode khusus dalam memahami dan menjalankan agama ini, yang sangat bertentangan dengan prinsip dan metode Ahlusunnah wal Jamaah, dan menyimpang sangat jauh dari Al Quran dan As Sunnah. Mereka membangun keyakinan dan tata cara peribadatan mereka di atas simbol-simbol dan istilah-istilah yang mereka ciptakan sendiri, yang dapat kita simpulkan sebagai berikut:
Pertama, mereka membatasi ibadah hanya pada aspek Mahabbah (kecintaan) saja dan mengenyampingkan aspek-aspek yang lainnya, seperti aspek Khauf (rasa takut) dan Raja' (harapan), sebagaimana yang terlihat dalam ucapan beberapa orang ahli tasawuf, "Aku beribadah kepada Allah 'azza wa jalla bukan karena aku mengharapkan masuk surga dan juga bukan karena takut masuk neraka!?" Memang benar bahwa aspek Mahabbah adalah landasan berdirinya ibadah, akan tetapi ibadah itu tidak hanya terbatas pada aspek Mahabbah saja - sebagaimana yang disangka oleh orang-orang ahli tasawuf-, karena ibadah itu memiliki banyak jenis dan aspek yang melandasinya selain aspek Mahabbah, seperti aspek khauf, raja', dzull (penghinaan diri), khudhu' (ketundukkan), doa dan aspek-aspek lain.
Salah seorang ulama Salaf berkata: "Barang siapa yang beribadah kepada Allah 'azza wa jalla dengan kecintaan semata maka dia adalah seorang zindiq, dan barang siapa yang beribadah kepada Allah dengan pengharapan semata maka dia adalah seorang Murji'ah, dan barang siapa yang beribadah kepada Allah 'azza wa jalla dengan ketakutan semata maka dia adalah seorang Haruriyyah (Khawarij), dan barang siapa yang beribadah kepada Allah 'azza wa jalla dengan kecintaan, ketakutan dan pengharapan maka dialah seorang mukmin sejati dan muwahhid (orang yang bertauhid dengan benar)." Oleh karena itu Allah 'azza wa jalla memuji sifat para Nabi dan Rasul- Nya, yang mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan perasaan takut dan berharap, dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan siksaan-Nya.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: "Kebanyakan orang- orang yang menyimpang (dari jalan Allah), orang-orang yang mengikuti ajaran-ajaran bid'ah berupa sikap zuhud dan ibadah- ibadah yang tidak dilandasi ilmu dan tidak sesuai dengan petunjuk dari Al Quran dan As Sunnah, mereka terjerumus ke dalam kesesatan seperti yang terjadi pada orang-orang Nasrani yang mengaku-ngaku mencintai Allah, yang bersamaan dengan itu mereka menyimpang dari syariat-Nya dan enggan untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menjalankan agama-Nya, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya." (Kitab Al 'Ubudiyyah, tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah [hal. 90], cet. Darul Ifta', Riyadh).
Dari uraian di atas jelaslah bahwa membatasi ibadah hanya pada aspek Mahabbah saja tidaklah disebut ibadah, bahkan ajaran ini bisa menjerumuskan penganutnya ke jurang kesesatan bahkan menyebabkan dia keluar dari agama islam.
Kedua, orang-orang ahli tasawuf umumnya dalam menjalankan agama dan melaksanakan ibadah tidak berpedoman kepada Al Quran dan As Sunnah, tapi yang mereka jadikan pedoman adalah bisikan jiwa dan perasaan mereka dan ajaran yang digariskan oleh pimpinan- pimpinan mereka, berupa thariqat-thariqat bid'ah, berbagai macam zikir dan wirid yang mereka ciptakan sendiri, dan tidak jarang mereka mengambil pedoman dari cerita- cerita (yang tidak jelas kebenarannya), mimpi-mimpi, bahkan hadits-hadits yang palsu untuk membenarkan ajaran dan keyakinan mereka. Inilah landasan ibadah dan keyakinan ajaran Tasawuf.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Orang-orang ahli Tasawuf dalam beragama dan mendekatkan diri kepada Allah 'azza wa jalla berpegang teguh pada suatu pedoman seperti pedoman yang dipegang oleh orang-orang Nasrani, yaitu ucapan-ucapan yang tidak jelas maknanya, dan cerita-cerita yang bersumber dari orang yang tidak dikenal kejujurannya, kalaupun ternyata orang tersebut jujur, tetap saja dia bukan seorang (Nabi/Rasul) yang terjaga dari kesalahan, maka (demikian pula yang dilakukan orang-orang ahli Tasawuf) mereka menjadikan para pemimpin dan guru mereka sebagai penentu/pembuat syariat agama bagi mereka, sebagaimana orang-orang Nasrani menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai penentu/pembuat syariat agama bagi mereka."
Ketiga, termasuk doktrin ajaran Tasawuf adalah keharusan berpegang teguh dan menetapi zikir-zikir dan wirid-wirid yang ditentukan dan diciptakan oleh guru-guru thariqat mereka, yang kemudian mereka menetapi dan mencukupkan diri dengan zikir-zikir tersebut, beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah 'azza wa jalla dengan selalu membacanya, bahkan tidak jarang mereka mengklaim bahwa membaca zikir-zikir tersebut lebih utama daripada membaca Al Quran, dan mereka menamakannya dengan "zikirnya orang-orang khusus."
Adapun zikir-zikir yang tercantum dalam Al Quran dan As Sunnah mereka namakan dengan "zikirnya orang-orang umum", maka kalimat (Laa Ilaha Illallah) menurut mereka adalah "zikirnya orang-orang umum", adapun "zikirnya orang-orang khusus" adalah kata tunggal "Allah" dan "zikirnya orang-orang khusus yang lebih khusus" adalah kata (Huwa/Dia).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Barang siapa yang menyangka bahwa kalimat (Laa Ilaha Illallah) adalah zikirnya orang-orang umum, dan zikirnya orang-orang khusus adalah kata tunggal "Allah", serta zikirnya orang-orang khusus yang lebih khusus adalah kata ganti (Huwa/Dia), maka dia adalah orang yang sesat dan menyesatkan. Di antara mereka ada yang berdalil untuk membenarkan hal ini, dengan firman Allah 'azza wa jalla:
قُلِ اللّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
"Katakan: Allah (yang menurunkannya), kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya." (QS. Al An'aam: 91)
(Berdalil dengan cara seperti ini) adalah kesalahan yang paling nyata yang dilakukan oleh orang-orang ahli Tasawuf, bahkan ini termasuk menyelewengkan ayat Al Quran dari maknanya yang sebenarnya, karena sesungguhnya kata "Allah" dalam ayat ini disebutkan dalam kalimat perintah untuk menjawab pertanyaan sebelumnya, yaitu yang Allah 'azza wa jalla dalam firman-Nya:
وَمَا قَدَرُواْ اللّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُواْ مَا أَنزَلَ اللّهُ عَلَى بَشَرٍ مِّن شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاء بِهِ مُوسَى نُوراً وَهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيراً وَعُلِّمْتُم مَّا لَمْ تَعْلَمُواْ أَنتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ قُلِ اللّهُ
"Katakanlah: Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang terpisah-pisah, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapakmu tidak mengetahuinya? Katakanlah: Allah (yang menurunkannya)." (QS. Al An'aam: 91)
Jadi maknanya yang benar adalah: "Katakanlah: Allah, Dialah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Nabi Musa shallallahu 'alaihi wa sallam." (Kitab Al 'Ubudiyyah hal. 117).
Keempat, sikap Ghuluw (berlebih- lebihan/ekstrem) orang-orang ahli Tasawuf terhadap orang- orang yang mereka anggap wali dan guru-guru thariqat mereka, yang bertentangan dengan aqidah Ahlusunnah wal Jamaah, karena di antara prinsip aqidah Ahlusunnah wal Jamaah adalah berwala (mencintai/berloyalitas) kepada orang-orang yang dicintai Allah 'azza wa jalla dan membenci musuh-musuh Allah 'azza wa jalla. Allah 'azza wa jalla berfirman:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
"Sesungguhnya wali (kekasih/penolongmu) hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)." (QS. Al Maaidah: 55)
Dan Allah 'azza wa jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia." (QS. Al Mumtahanah: 1)
Wali (kekasih) Allah 'azza wa jalla adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah 'azza wa jalla). Dan merupakan kewajiban kita untuk mencintai, menghormati dan meneladani mereka. Dan perlu ditegaskan di sini bahwa derajat kewalian itu tidak hanya dikhususkan pada orang-orang tertentu, bahkan setiap orang yang beriman dan bertakwa dia adalah wali (kekasih) Allah 'azza wa jalla, akan tetapi kedudukan sebagai wali Allah 'azza wa jalla tidaklah menjadikan seseorang terjaga dari kesalahan dan kekhilafan. Inilah makna wali dan kewalian, dan kewajiban kita terhadap mereka, menurut pemahaman Ahlusunnah wal Jamaah.
Adapun makna wali menurut orang-orang ahli Tasawuf sangat berbeda dengan pemahaman Ahlusunnah wal Jama'ah, karena orang-orang ahli Tasawuf memiliki beberapa kriteria dan pertimbangan tertentu (yang bertentangan dengan petunjuk Al Quran dan As Sunnah) dalam masalah ini, sehingga mereka menobatkan derajat kewalian hanya kepada orang-orang tertentu tanpa dilandasi dalil dari syariat yang menunjukkan kewalian orang-orang tersebut. Bahkan tidak jarang mereka menobatkan derajat kewalian kepada orang yang tidak dikenal keimanan dan ketakwaannya, bahkan kepada orang yang dikenal punya penyimpangan dalam keimanannya, seperti orang yang melakukan praktek perdukunan, sihir dan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah 'azza wa jalla. Dan terkadang mereka menganggap bahwa kedudukan orang-orang yang mereka anggap sebagai "wali" melebihi kedudukan para Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka:
Kedudukan para Nabi di alam Barzakh
Sedikit di atas Seterusnya
Selengkapnya...
1 Desember 2009
Biarkan syi'ah bercerita kesesatan agamanya" bagian:4
Tingkat pembahasan: Lanjutan
Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zain
(Mahasiswa S2, Universitas Islam Madinah)
Fakta Kelima: Syi'ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai Hari 'Asyura. Pada hari 'Asyura orang-orang Islam menunaikan ibadah puasa, dalam rangka mencontoh Nabi shallallahu 'alaihi wassalam. Kitab- kitab orang Rafidhah juga memerintahkan untuk berpuasa pada hari 'Asyura, akan tetapi anehnya orang-orang Rafidhah sendiri mengingkari puasa tersebut, bahkan menuduh bahwa orang-orang kerajaan Umawi-lah yang membuat-buat riwayat-riwayat palsu yang menghasung puasa 'Asyura. Setiap tahun, pada hari-hari bulan Muharam, terutama tanggal sepuluh, orang-orang Rafidhah melakukan perbuatan- perbuatan 'aib yang memalukan; mulai dari memakai pakaian hitam, mengadakan majelis- majelis Al Husainiyah, mengadakan ceramah-ceramah dan perkumpulan-perkumpulan yang diselingi dengan pelaknatan terhadap Mu'awiyah radhiallahu 'anhu dan anaknya Yazid serta kepada bani Umayyah secara keseluruhan. Juga mereka menganiaya diri mereka sendiri dan memukuli diri mereka dengan rantai dan pedang. Serta masih banyak penyelewengan- penyelewengan syariat lainnya, yang mana itu semua dengan dalih mengungkapkan rasa bela sungkawa dan berkabung atas kematian Husain radhiallahu 'anhu. Dengarlah syaikh mereka Abdul Hamid al-Muhajir yang melegalisir aksi orang-orang Rafidhah pada hari 'Asyura, "Jangan kalian dengar orang yang berkata bahwa memukul- mukul kepala dengan rantai, menampar dan menangis itu haram, sesungguhnya mereka itu tidak paham agama Islam. Pada asalnya sesuatu itu diharamkan seandainya membahayakan, kalau membahayakan baru bisa dikatakan haram, dan ini tidak ada hubungannya dengan memukul-mukul kepala dan memukul-mukul kaki, siapa bilang itu haram? Mengharamkan sesuatu butuh dalil, karena pada asalnya segala sesuatu itu hukumnya halal!!" Inilah ulama kita yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang mengingkari bid'ah-bid'ah dan kemungkaran- kemungkaran Rafidhah pada hari-hari 'Asyura dengan perkataannya, "Orang yang menjadikan hari 'Asyura sebagai hari penebusan dosa dan hari berkabung, sebagaimana orang- orang Rafidhah yang pada hari itu mereka memukul- mukul dada- dada dan tubuh- tubuh mereka serta memukul- mukul diri mereka dengan besi, mencaci maki dan melaknat. Ini semua merupakan sebagian dari kebodohan, kesesatan serta kebid'ahan mereka yang tercela. Kita memohon kepada Allah keselamatan dari itu semua. Niyahah (ratapan), memukul- mukul pipi, serta merobek-robek pakaian, tetap merupakan perbuatan mungkar, kapan saja dan di mana saja sampai pun pada hari di mana Husain terbunuh, atau di saat musibah apapun. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkari perbuatan itu dan bersabda, 'Tidak termasuk dari golongan kami: orang-orang yang memukul-mukul pipi dan merobek-robek pakaian serta menyeru dengan seruan jahiliyah.' Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda, 'Allah melaknat ash- Shaliqah, al- Haliqah serta asy-Syaqqah.' Ash- Shaliqah: adalah orang yang meraung-raung ketika terjadi musibah, al-Haliqah: yang menggundul rambutnya, asy- Syaqqah: yang merobek-robek pakaiannya. Ini semua merupakan kemungkaran, na'udzubillah!. Orang-orang Rafidhah memperbolehkan aksi-aksi tersebut dengan dalih bahwa itu ungkapan dukungan terhadap ahlul bait dan sebagai ungkapan kesedihan. Padahal dengan aksi- aksi tersebut mereka telah menyakiti diri mereka sendiri dan menjadikan Allah murka terhadap perbuatan buruk tersebut, sebab aksi itu telah menyelisihi syariat dan merupakan bid'ah yang mungkar." Bagaimana mungkin kita bisa bersatu dengan orang-orang yang selalu mencekoki masyarakatnya setiap tahun dengan perasaan dendam dan dengki terhadap Ahlusunnah, dengan dalih bahwa Ahlusunnah- lah yang telah membunuh Husain. Padahal kitab-kitab Syi'ah dipenuhi riwayat-riwayat yang membuktikan bahwa orang Syia'h Kufah-lah yang telah mengkhianati Husain radhiallahu 'anhu, sebagaimana sebelumnya mereka telah berkhianat kepada saudara dan bapaknya. Dalam kitab Maqtal al-Husain karya Abdul Razak al-Mukrim (hal 175 ) disebutkan: ((Bahwa Husain radhiallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya merekalah yang telah mengkhianatiku, lihatlah surat-surat yang berasal dari Kufah ini! Sesungguhnya merekalah yang telah membunuhku!")). Hal yang senada disebutkan dalam kitab Muntaha al-Aamal Fi Tarikh an-Nabiy wa al-Aal (jilid I, hal 535 ). Bahkan referensi Syi'ah yang tersohor Muhsin al-Amin dalam A'yaan asy- Syi'ah (jilid I, hal 32 ) berkata, "Kemudian 20.000 penduduk Irak yang telah membai'at Husain mengkhianatinya dan meninggalkannya, padahal tali bai'at masih tergantung di leher mereka. Kemudian mereka membunuh al-Husain." Dalam kitab al-Ihtijaj karangan ath- Thabarsy (hal 306) disebutkan, ((Bahwa Ali bin Husain yang dikenal dengan julukan Zainal Abidin berkata: "Wahai para manusia, demi Allah tahukah kalian bahwa sesungguhnya kalian-lah yang telah menulis surat terhadap bapakku, lantas kalian tipu dia?! Kalian telah berjanji dan membai'at bapakku lantas kalian bunuh dan terlantarkan dia?! Celakalah kalian atas apa yang telah kalian lakukan. Bagaimana kelak kalian bisa memandang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tatkala beliau kelak berkata, 'Kalian telah membunuh keluargaku dan kalian rusak kehormatanku, sesungguhnya kalian bukanlah dari golongan kami!'")). Dalam kitab Maqtal al- Husain karangan Murtadha 'Ayyad (hal 83 ) dan dalam kitab Nafs al- Mahmum karangan 'Abbas Al Qummy (hal 357 ) disebutkan, ((Tatkala Imam Zainal Abidin rahimahullah lewat dan melihat orang Kufah menangis dan meratap (berkabung atas meninggalnya Husain), beliau membentak mereka seraya berkata, "Kalian meratapi diri kami??! Lantas siapakah yang membunuh kami? (kalau bukan kalian?? -pen)")). Hal yang senada disebutkan dalam kitab al-Ihtijaj karya ath-Thabarsy (hal 304). Dengarlah ulama kita Al 'Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah yang menerangkan kejadian yang sebenarnya tentang Husain radhiallahu 'anhu, juga menerangkan sikap Ahlusunnah terhadap fitnah tersebut: "Tatkala Husain bin Ali radhiallahu 'anhu mendengar berita tentang kemungkaran- kemungkaran yang dilakukan oleh Yazid bin Mu'awiyah, beliau keluar dari Mekkah menuju Irak, dengan tujuan menyatukan kalimat kaum muslimin di atas kebaikan serta menegakkan syariat Islam. Sebagian saudara- saudaranya dari para sahabat telah menasihatinya agar tidak pergi, tapi beliau berijtihad untuk berangkat. (Tatkala mendengar keberangkatan al- Husain) Ubaidullah bin Ziyad mengutus pasukan yang dipimpin Umar bin Sa'id bin Abi Waqqas, hingga terjadilah peperangan antara dua pihak. Orang-orang yang bersama Husain saat itu sedikit sekali yaitu keluarga dia. Maka terbunuhlah Husain dan banyak korban berjatuhan dari orang- orang yang bersamanya di suatu tempat yang bernama Karbala. Ubaidullah bin Ziyad telah bersalah karena perbuatannya, sebenarnya Husain sudah berkehendak pulang dan meninggalkan fitnah, atau pergi ke Yazid, atau pergi ke daerah sekitar. Akan tetapi pasukan tersebut terus memerangi dia sampai akhirnya membunuh dia dan membunuh siapa saja yang berusaha untuk melindungi dia. Hingga terbunuhlah Husain dalam keadaan terzalimi dan tidak bersalah. Maka terjadilah musibah besar yang membuka pintu keburukan yang besar! nas'alullah al-'afiyah!" Mereka (Ubaidullah dkk) telah berbuat salah dengan perbuatan mereka tersebut, semoga Allah meridhai Husain dan memberi rahmat kepadanya, kepada kita serta kepada semua kaum Muslimin. Semoga Allah membalas orang- orang yang melakukan perbuatan-perbuatan itu dengan balasan yang setimpal. Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan-kejahatan Rafidhah dan perbuatan-perbuatan mereka yang hina, serta Allah kembalikan mereka ke pangkuan Islam dan petunjuk. Epilog Para pembaca yang budiman, setelah kita melakukan 'pengembaraan' dari satu referensi ke referensi yang lain yang berada di perpustakaan kelompok Syi'ah, penulis ingin menarik perhatian para pembaca kepada dua perkara penting yang erat kaitannya dengan pembahasan kita kali ini. Dua hal itu adalah: Pertama- Kami rasa setiap yang membaca makalah ini akan bisa langsung menarik kesimpulan betapa sesatnya kelompok yang satu ini, bahkan dia bisa mengatakan bahwa yang menganut keyakinan tersebut di atas tidak lagi bisa dianggap beragama Islam. (Bahkan ada salah seorang awam yang tatkala membaca awal makalah ini, tidak bisa mengeluarkan kata-kata kecuali hanya: "Ini kelompok dholal (sesat) banget sich!"). Yang ingin kami jelaskan di sini: Sedemikian sesatnya kelompok Syi'ah ini, masih ada - sampai detik ini- orang-orang yang berusaha dengan gigihnya untuk menyatukan antara Syi'ah dan Ahlusunnah di bawah satu payung, dan mengatakan bahwa perbedaan kita dengan Syi'ah hanyalah seperti perbedaan antara empat mazhab Ahlusunnah; Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali. Entah karena mereka tidak tahu kesesatan Syi'ah atau karena pura-pura tidak tahu. Wallahua'lam... Kalau tidak tahu kenapa berbicara, bukankah orang yang tidak tahu sebaiknya diam saja? Kalaupun tahu kenapa tidak menerangkan hakikat kelompok Syi'ah itu kepada pengikutnya?? Berikut penulis bawakan statemen- statemen pembesar kelompok pergerakan ini yang terang- terangan berusaha menyatukan antara Ahlusunnah dan Syi'ah (Silahkan baca: ibid hal: 238-268 , dan al-Quthbiyyah Hiya al-Fitnah Fa'rifuha, karya Abu Ibrahim bin Sulthan al- 'Adnani, hal: 68-71) Mari kita mulai dengan perkataan pendiri kelompok ini Hasan al-Banna rahimahullah, "Ketahuilah bahwa Ahlusunnah dan Syi'ah semuanya termasuk kaum muslimin, mereka disatukan dengan kalimat La ilaaha illAllah wa anna Muhammadan Rasulullah (Padahal syahadat orang Syi'ah mereka tambahi dengan: wa anna 'aliyyan waliyyullah washiyyu rasulillah wa khalifatuhu bila fashl. Silahkan lihat cover buku Tuhfah al- 'Awaam Maqbul, karya as-Sayyid Mandzur Husain -pen), ini adalah inti aqidah, Sunah dan Syi'ah sepakat di dalamnya, dan di atas kesucian. Adapun perkara khilaf antara keduanya, maka itu termasuk perkara-perkara yang bisa kita dekatkan antara keduanya." (Dzikrayat La Mudzakkirat hal 249-250 ). Umar at-Tilmisani rahimahullah berkata dalam suatu makalah dia asy- Syi'ah Wa as-Sunnah, "Usaha penyatuan antara Syi'ah dan Sunnah merupakan kewajiban para ahli fikih zaman ini." (Majalah ad-Da'wah al-Mishriyyah edisi 105 , Juli 1985 M). Dalam kitabnya yang lain disebutkan, "Syi'ah itu suatu kelompok yang kira-kira mirip dengan empat mazhab dalam Ahlusunnah... Memang di sana ada berbagai perbedaan, akan tetapi mungkin untuk dihilangkan, seperti: nikah mut'ah, jumlah istri seorang muslim -dan itu terdapat di sebagian sekte kelompok mereka- dan lain sebagainya. Yang mana perbedaan- perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadikan perpecahan antara Sunnah dan Syi'ah." (Al-Mulham al-Mauhub Hasan al-Banna, Umar Tilmisani). Berkata Dr. Muhammad al-Ghazali rahimahullah, "Betul, saya termasuk orang yang berkepentingan dalam usaha penyatuan antara mazhab- mazhab Islam. Saya selalu bekerja keras dan terus- menerus di Kairo. Saya berteman dengan Muhammad Taqy al- Qummy, Muhammad Jawad Mughniyah, dan ulama-ulama besar Syi'ah yang lain." (Mauqif 'Ulama al-Muslimin hal 21-23). Bahkan tatkala gembong Syi'ah abad ini Ayatullah al-Khomeini (orang yang 'merestui' pelaknatan terhadap Abu Bakar dan Umar (Karena dia merestui buku Tuhfah al-'Awaam Maqbul, as-Sayyid Mandzur Husain, yang di dalamnya terdapat doa shanamai quraisy, yang dipenuhi dengan cacian dan laknatan kepada ash-Shiddiq dan al- Faruq)) berhasil melakukan revolusi di Iran, tokoh-tokoh organisasi pergerakan ini berbondong-bondong mengucapkan selamat dan bahkan mendukung kepemimpinannya: Berkata Al Maududi rahimahullah, "Sesungguhnya revolusi al- Khomeini adalah revolusi yang islami, dipelopori oleh jama'ah islamiyah dan para pemuda yang dididik dalam tarbiyah islamiyah di kancah pergerakan Islam. Maka seluruh kaum muslimin dan gerakan-gerakan Islam berkewajiban untuk mendukung revolusi ini dengan dukungan yang sebesar-besarnya, serta bekerjasama dengan mereka di segala aspek." (Asy-Syaqiqani, hal 3 . dan Mauqif Ulama al- Muslimin, hal 48). Fathi Yakan rahimahullah berkata, "Dan di dalam sejarah Islam baru-baru ini, terdapat bukti atas perkataan yang kami ucapkan. Bukti itu adalah: percobaan revolusi islami yang ada di Iran; percobaan yang diperangi oleh setiap kekuatan kafir di muka bumi ini, dan masih terus diperangi, karena revolusi ini islami dan tidak memihak ke timur maupun ke barat." (Abjadiyat at-Tashawwur al- Haraki Li al-'Amal al-Islami, hal 148). Bahkan at-Tandzim ad- Dauly Lijama'ati al-Ikhwan al- Muslimin (Organisasi Internasional Kelompok Ikhwanul Muslimin ) telah menerbitkan memorandum yang berisi, "Dengan ini, Organisasi Internasional Kelompok Ikhwanul Muslimin menyeru setiap pemimpin organisasi pergerakan Islam di Turki, Pakistan, India, Indonesia, Afghanistan, Malaysia, Philipina dan organisasi Ikhwanul Muslimin di negeri-negeri Arab, Eropa dan Amerika untuk mengirim utusan mereka guna membentuk suatu delegasi yang akan diberangkatkan ke Teheran dengan menggunakan pesawat khusus. Dengan tujuan untuk menemui al-Imam Ayatullah al-Khomeini, dalam rangka menekankan dukungan pergerakan Islam yang diwakili oleh Ikhwanul Muslimin, Hizb as- Salamah Turki, al-Jama'ah al- Islamiyah di Pakistan, al-Jama'ah al-Islamiyah di India, Jama'ah Partai Masyumi di Indonesia, Angkatan Belia Islam Malaysia, al- Jama'ah al-Islamiyah di Philipina. Pertemuan itu merupakan salah satu tanda kebesaran Islam dan kemampuannya untuk mencairkan perbedaan- perbedaan ras, kebangsaan dan mazhab..." (Majalah al-Mujtama' al-Kuwaitiyah, edisi 434 , 25 /2 /1979). Wahai para pembaca yang budiman, apakah perbedaan itu berhasil dicairkan dengan cara menundukkan setiap perbedaan pendapat di bawah Al Quran dan As Sunnah, atau dengan cara diam dan pura-pura cuek dengan segala macam bentuk perbedaan, entah itu klaim bahwa Al Quran tidak sempurna, pelaknatan terhadap Abu Bakar dan Umar, atau tuduhan yang dilontarkan kepada Ummul Mu'minin Aisyah bahwa dia telah berzina, serta dosa-dosa besar lainnya???!! Allahulmusta'an wa 'alaihit tuklan... Kedua- Barangkali ada di antara kita -setelah membaca makalah ini- semangatnya berkobar untuk menasihati orang-orang Syi'ah, entah itu di Madinah atau di kampungnya. Bisa jadi -dan itu memang sudah terjadi- tatkala kita ungkapkan fakta-fakta tersebut di atas, mereka akan menjawab, "Itu semua tidak ada dalam ajaran Syi'ah!" Kalau itu jawaban mereka apa langkah kita selanjutnya? Perlu diketahui bersama, bahwa orang Syi'ah mempunyai suatu 'senjata' yang bernama taqiyyah (Silahkan lihat: Min 'Aqaid asy-Syi'ah, Abdullah bin Muhammad as-Salafy, hal: 32- 33 ). Salah seorang ulama kontemporer mereka mendefinisikan taqiyyah dengan perkataannya, "Taqiyyah adalah mengucapkan atau berbuat sesuatu yang tidak engkau yakini, dengan tujuan untuk melindungi diri dan harta dari marabahaya, atau agar harga dirimu terjaga." (Asy-Syi'ah Fi al- Mizan, Muhammad Jawad Mughniyah, hal 48 ). Al-Kulaini dalam Ushul al-Kafi (hal 482-483 ) menyebutkan, ((Abu Abdilah berkata, "Wahai Abu Umar, sesungguhnya 9 /10 agama kita terletak di dalam taqiyyah, barang siapa yang tidak bertaqiyyah maka dia dianggap tidak mempunyai agama!!")). Jadi orang-orang Syi'ah menganggap bahwa taqiyyah itu hukumnya wajib. Maka kalau ada di antara mereka yang mengingkari fakta- fakta ini, ketahuilah bahwa mereka sedang bertaqiyyah alias berbohong. Wallahua'lam, semoga bermanfaat! dan mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan... Wa shallallahu 'ala nabiyyina muhammadin wa 'ala aalihi wa shahbihi ajmain. Kota Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Selasa, 20 Muharram 1426 H.
Selengkapnya...
Biarkan syi'ah bercerita kesesatan agamanya" bagian:3
Tingkat pembahasan: Lanjutan
Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zain
(Mahasiswa S2, Universitas Islam Madinah)
FAKTA KEEMPAT: Syi'ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai Ahlusunnah.
Tuhan Orang Syi'ah Beda Dengan Tuhan Ahlusunnah
Berkata Ni'matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an- Nu'maniyah (jilid I, hal 278), ((Sesungguhnya kami (kaum Syi'ah) tidak pernah bersepakat dengan mereka (Ahlusunnah) dalam menentukan Allah, nabi maupun imam. Sebab mereka (Ahlusunnah) mengatakan bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan yang menunjuk Muhammad sebagai nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai pengganti Muhammad sesudah beliau wafat. Kami (kaum syi'ah) tidak setuju dengan Tuhan model seperti ini, juga kami tidak setuju dengan model nabi yang seperti itu. Sesungguhnya Tuhan yang memilih Abu Bakar sebagai pengganti nabi-Nya, bukanlah Tuhan kami. Dan nabi model seperti itu pun bukan nabi kami!)). Na'udzubillah dari kekufuran dan kesesatan ini!!!
Pengertian an-Naashib Dalam 'Kamus' Rafidhah
An-Nawaashib mufradnya naashib. Definisinya menurut Ahlusunnah adalah: Orang-orang yang mengalahkan serta melaknat Ali dan keluarganya. Sedangkan definisinya versi orang-orang Syi'ah: An-Nawashib adalah Ahlusunnah yang mencintai Abu Bakar, Umar dan para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lainnya radhiallahu 'anhum.
Husain Aal 'Ushfur ad-Darraz al- Bahrany dalam kitabnya al- Mahasin an-Nafsaniyah Fi Ajwibati al-Masail al-Khurasaniyah (hal 147) berkata, ((Berita-berita yang bersumber dari para imam 'alaihis salam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan an-Nashib adalah yang biasa dipanggil dengan julukan Sunni)). Dia juga berkata, ((Tidak perlu lagi dipermasalahkan bahwa yang dimaksud dengan an-Nashibah adalah Ahlusunnah)).
Berkata Ni'matullah al-Jazairy dalam kitabnya al-Anwar an- Nu'maniyah (jilid II, hal 306-307 ), ((Adapun orang Nashibi, kondisi dan hukum-hukum yang berkaitan dengan mereka bisa dijelaskan dalam dua hal: Pertama, siapakah yang dimaksud dengan an-Nashib yang diceritakan dalam berbagai riwayat mereka itu lebih jahat dari orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Yang juga mereka itu kafir dan najis menurut ijma' para ulama imamiyah... Dan telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa di antara ciri khas orang-orang Nawashib adalah: mendahulukan selain Ali atasnya)). Perkataan orang satu ini menunjukkan bahwa setiap yang mendahulukan kepemimpinan Abu Bakar, Umar dan Utsman sebelum kepemimpinan Ali radhiallahu 'anhu, maka dia adalah Nashibi menurut versi orang-orang Rafidhah; padahal orang-orang Nashibi itu menurut mereka lebih jahat dari orang Yahudi, Nashrani dan Majusi, bahkan dianggap kafir dan najis!!! Na'udzubillah!!
Kaum Rafidhah Menghalalkan Harta dan Nyawa Ahlusunnah
Berkata Yusuf al-Bahrany dalam kitabnya al-Hadaaiq an- Naadhirah Fii Ahkaam al-'Itrah ath- Thaahirah (jilid XII, hal 323), "Sesungguhnya anggapan bahwa an-Nashib itu muslim, dan juga anggapan bahwa agama Islam tidak membolehkan untuk mengambil harta mereka, ini semua tidak sesuai dengan ajaran kelompok yang benar (maksudnya Syi'ah -pen) mulai dari dahulu sampai sekarang, yang mana mereka itu mengatakan bahwa an-Nashib itu kafir dan najis serta boleh diambil hartanya bahkan dibenarkan untuk dibunuh."
Dalam kitab Wasail asy-Syi'ah karangan al-Hur al-'Amily (jilid XVIII, hal 463) disebutkan, ((Berkata Dawud bin Farqad, Aku bertanya kepada Abu Abdillah 'alaihis salam, "Apa pendapatmu tentang an-Nashib?" Dia menjawab, "Halal darahnya (nyawanya -pen) tapi aku bertaqiyyah (Lihat maksud dari istilah taqiyyah di epilog dari tulisan ini -pen). darinya. Seandainya engkau bisa membunuhnya dengan cara meruntuhkan suatu tembok atasnya atau kamu tenggelamkan dia, supaya tidak ketahuan bahwa kamulah pembunuhnya, maka lakukanlah!")). Aku bertanya lagi, "Lantas bagaimana dengan hartanya?" Dia menjawab, "Musnahkanlah hartanya semampumu!")).
Dalam kitab ar-Raudhah min al- Kafi (hal 285) disebutkan, ((Dari Abu Hamzah, Aku bertanya kepada Abu Ja'far 'alaihis salam, "Sebagian kawan-kawan kami memfitnah dan menuduh yang tidak-tidak terhadap siapa saja yang menyelisihi mereka?" Dia menjawab, "Lebih baik engkau tinggalkan perbuatan itu! Demi Allah wahai Abu Hamzah sesungguhnya seluruh manusia adalah anak-anak pelacur kecuali para pendukung kita!!")). Yang dia maksud adalah: bahwa semua manusia adalah anak-anak hasil perzinaan kecuali orang-orang Syi'ah (Bagaimana mungkin mereka menganggap semua orang Syi'ah suci dan bukan hasil perzinaan, padahal zina (baca: nikah mut'ah) sendiri mereka anggap merupakan salah satu ritual ibadah yang paling utama?!! -pen). Wa laa haula wa laa quwwata illa billah.
Orang-Orang Rafidhah Mengkafirkan Golongan Ahlusunnah
Al-Faidl al-Kasyany dalam kitabnya Minhaj an-Najah (hal 48) berkata, "Barang siapa yang mengingkari keimaman salah seorang dari mereka (yakni para imam yang dua belas) maka sesungguhnya dia itu sama dengan orang yang mengingkari kenabian seluruh para nabi."
Berkata al-Maamaqaany dalam kitabnya Taudhih al-Maqaal (jilid I, hal 208), "Kesimpulan yang dapat diambil dari kitab-kitab, bahwa setiap yang tidak bermazhab itsna 'asyar (syi'ah) akan diterapkan baginya hukum orang kafir dan musyrik di akhirat."
Dengarlah orang-orang Rawafidh yang terang-terangan melaknat para ulama Islam seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Samahah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumullah: "Ini syeikh Bin Baz, kalian anggap dia itu syaikh?! Wahai orang-orang yang najis!, orang-orang yang kotor!, wahai para pengikut Ibnu Taimiyyah si anjing itu! Wahai para pengikut Bin Baz al-Munafiq si buta mata dan hati! Semoga Allah melaknat dia!!! Semoga Allah melaknat dia!! Anjing kalian ikuti?!, kalau bukan karena kalian binatang niscaya kalian tidak akan mengikuti binatang, babi seperti Bin Baz!!!)). Wa laa haula wa laa quwwata illa billah.
Keyakinan Rafidah Mengenai Al- Mahdi Yang Dinanti- nantikan
Ahlusunnah meyakini bahwa di akhir zaman nanti akan muncul seorang dari ahlul bait, Allah kokohkan dengannya agama Islam, dia berkuasa tujuh tahun, memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman. Bumi menumbuhkan tumbuh- tumbuhannya, langit menurunkan hujannya, harta melimpah ruah tanpa batas.
Adapun Rafidhah, maka telah terjadi kontradiksi dalam keyakinan mereka tentang al- Mahdi; terkadang mereka mengingkari lahirnya al-Mahdi sebagaimana yang dikatakan oleh al-Kulainy dalam kitabnya Ushul al-Kafi (jilid I, hal 505), Ibnu Baabawaih al-Qummy dalam kitabnya Kamaal ad-Din Wa Tamaam an-Ni'mah (hal 51 ), juga al-Majlisy dalam kitabnya Bihaar al-Anwar (jilid 50 , hal 329), bahwa al-Mahdi tidak akan dilahirkan, sebab harta warisan ayah al-Mahdi yang bernama al- Hasan al-'Askary sudah terlanjur dibagi-bagi.
Akan tetapi terkadang mereka mengatakan bahwa al-Mahdi telah dilahirkan, akan tetapi dia masih bersembunyi di suatu tempat yang bernama gua as- Saamuroi, dan akan muncul kelak di akhir zaman untuk membantu Syi'ah dan membunuhi musuh- musuh mereka dari kalangan Ahlusunnah.
Agar kerancuan itu lenyap, akan kita sebutkan perbedaan- perbedaan antara Mahdinya orang Islam dengan Mahdi yang diklaim oleh orang Rafidhah.
Pertama, Mahdinya orang Islam bernama Muhammad bin Abdullah, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Namanya (al- Mahdi -pen) sama dengan namaku, dan nama bapaknya (al- Mahdi -pen) juga sama dengan nama bapakku." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzy, serta dishahihkan oleh al-Albany dalam Misykaat al- Mashabih). Adapun Mahdi yang diakui oleh orang Rafidhah bernama Muhammad bin al-Hasan al-'Askary sebagaimana yang disebutkan oleh al-Arbaly dalam kitabnya Kasyf al-Ghummah (jilid III, hal 226).
Kedua, Mahdinya orang Islam belum dilahirkan hingga sekarang dan dia akan dilahirkan di akhir zaman. Adapun mahdinya orang Rafidhah sesungguhnya telah dilahirkan pada tahun 255 H. Berkata al-Arbaly dalam kitabnya Kasyf al-Ghummah (jilid III, hal 236), "Al-Mahdi lahir pada malam pertengahan Sya'ban tahun 255 H, lantas tatkala berumur lima tahun dia masuk gua as-Samuroi di Irak. Dan sekarang dia masih hidup." Jadi sejak tahun itu sampai hari ini mahdi khurafatnya orang Rafidhah sudah berumur 1168 tahun!!!
Ini syaikh mereka Abdul Hamid al- Muhajir berusaha keras untuk membuktikan adanya al-Mahdi khurafat mereka, "Manusia itu bisa saja hidup ribuan tahun, ditambah lagi kita tidak mengetahui umur yang disebutkan dalam Al Quran. Sedangkan umur 70 tahun, 60 tahun, 80 tahun, itu semua umur alami. Umur itu tidak ada yang tahu panjangnya kecuali Allah. Mungkin saja seseorang hidup seumuran Nuh. Nuh hidup 3000 tahun. Ilmu mutakhir membuktikan bahwa tidak ada suatu hal yang menghalangi panjangnya umur seseorang, seandainya Allah menghendaki. Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini, karena Allah menciptakanmu tidak hanya untuk hidup 60 tahun kemudian kamu mati, seandainya jika memang belum ada sebab-sebab kematian. Para ilmuwan berkata: Seandainya manusia selalu berada di atas metode ilmiah yang tepat di dalam makannya, minumnya, pakaiannya, tidurnya dan bangunnya, niscaya dia bisa hidup ribuan tahun!"
Ketiga, Mahdinya orang Islam dari keluarga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keturunan al- Hasan bin Ali radhiallahu 'anhu, adapun mahdi yang diklaim oleh Rafidhah itu keturunan al-Husain bin Ali radhiallahu 'anhu.
Keempat, Mahdinya orang Islam tinggal selama 7 tahun, adapun Mahdi yang diklaim oleh Rafidhah tinggal selama 70 tahun.
Kelima, Mahdinya orang Islam memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Adapun Mahdinya orang Rafidhah, sesungguhnya dia akan membunuhi orang-orang Islam musuh-musuh Rafidhah, bahkan dia akan menghidupkan kembali ash-Shiddiq dan al-Faaruq; Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma, kemudian menyalib keduanya, juga mencambuk Aisyah dengan cambukan had. Sebagaimana disebutkan dalam kitab ar-Raj'ah karangan Ahmad al-Ahsaa'iy (hal 161).
Bahkan Mahdinya Rafidhah banyak melakukan pembunuhan di muka bumi ini terutama orang-orang Quraisy. Sampai- sampai mereka berkata: bahwasanya al-Mahdi akan membunuh dua pertiga dari penduduk bumi.
Demi Allah, tidak diragukan lagi bahwa ini adalah pekerjaan al- Masih ad-Dajjal! Bahkan dalam Bihaar al-Anwar (jilid 52 , hal 354) disebutkan, ((Telah diriwayatkan dari Abu Ja'far 'alaihis salam bahwa dia berkata: Hingga kebanyakan manusia berkata: "Dia bukanlah dari keluarga Nabi Muhammad, seandainya dia dari keluarga Muhammad, niscaya dia itu akan bersikap lemah lembut.")).
Keenam, Mahdinya orang Islam menegakkan syariatnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, adapun mahdinya yang diklaim Rafidhah dia akan menegakkan hukum keluarga Dawud, bahkan akan menyeru Allah dengan nama Ibraninya. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Ushul al-Kaafi (jilid I, hal 398).
Ketujuh, Mahdinya orang Islam Allah turunkan dengannya hujan, lantas bumi menumbuhkan tetumbuhannya. Adapun Mahdinya Rafidhah maka akan menghancurkan Ka'bah, Masjidil Haram, Masjid Nabawi bahkan akan menghancurkan semua masjid (yang ada di muka bumi - pen). Sebagaimana yang disebutkan oleh ath-Thusy dalam kitabnya al-Gharib (hal 472).
Kedelapan, Mahdinya orang Islam memerangi Yahudi dan Nasrani, sampai agama betul-betul menjadi milik Allah semata, dan dia beserta nabi Isa akan membunuh Dajjal. Adapun Mahdinya orang-orang Rafidhah maka dia akan berdamai dengan orang Yahudi dan Nasrani, lantas menghalalkan darah orang Islam dan membalas dendam terhadap mereka. Sebagaimana diterangkan al-Majlisy dalam kitabnya Bihar al-Anwar (jilid 52 , hal 376).
Dengan demikian hilanglah ketidakjelasan perbedaan antara dua mahdi. Dan tidak mungkin Mahdinya orang Islam dengan Mahdinya orang Rafidhah itu satu.
-bersambung insya Allah-
Selengkapnya...
Biarkan syi'ah bercerita kesesatan agamanya" bagian:2
Tingkat pembahasan: Lanjutan Penulis: Ustadz Abu Abdirrahman al-Atsary Abdullah Zain (Mahasiswa S2, Universitas Islam Madinah)
FAKTA KEDUA: Syi'ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai Al Quran. Semua umat Islam telah berijma' bahwasanya kitab Allah selalu terjaga dari pengubahan, penambahan ataupun pengurangan. Ia terjaga dengan penjagaan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9) Para ulama besar Ahlusunnah telah menegaskan bahwa barang siapa yang meyakini di dalam Al Quran terdapat tambahan atau kekurangan, maka sesungguhnya ia telah dianggap keluar dari agama Islam (murtad). Akidah ini sudah amat sangat masyhur dan mutawatir di kalangan Ahlusunnah, sampai-sampai tidak lagi dibutuhkan seseorang untuk mendatangkan dalil-dalil tentangnya. Berkata Ibnu Qudamah dalam kitab Lum'ah al- I'tiqad (hal 19), "Tidak ada perbedaan pendapat di antara umat Islam, bahwa barang siapa yang mengingkari satu surat, atau satu kata, atau satu huruf dari Al Quran yang telah disepakati, maka sesungguhnya dia telah kafir." Syi'ah dan Keyakinan Mereka Tentang Tahrif (distorsi, pengubahan) Al Quran Ulama-ulama Syi'ah yang paling menonjol yang berpendapat bahwa Al Quran telah mengalami distorsi adalah: Al-Kulainy, al- Qummy, al-Mufid, ath-Thobarsy, al-Kaasyany, al- Jazairy, al- Majlisy, al-'Amily, al- Khuu'iy, dan masih banyak yang lainnya. Pertama: Mari kita mulai dari al-Kulainy pengarang kitab al-Kaafi, kitabnya yang paling terpercaya di kalangan orang- orang Rafidhah. Pengarang berkata dalam jilid II, hal 634 , ((Dari Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah 'alaihis salam ia berkata, "Sesungguhnya Al Quran yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam terdiri dari 17.000 ayat")). Padahal sepengetahuan kita ayat-ayat Al Quran hanya berjumlah 6.000 ayat lebih sedikit. Riwayat kedua disebutkan dalam (jilid I, hal 228 ). Riwayat ketiga disebutkan dalam (jilid I, hal 228 ). Riwayat keempat disebutkan dalam jilid I, hal 229: ((Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah ia berkata, "Sesungguhnya yang berada di tangan kami adalah mushaf Fathimah. Tahukah kalian apa itu mushaf Fathimah?" Aku bertanya, "Apa itu mushaf Fathimah?" Ia menjawab, "Mushaf Fathimah tebalnya tiga kali lipat Al Quran kalian. Demi Allah tidak ada satu huruf pun dari Al Quran kalian, disebutkan di dalam mushaf Fathimah!")). Kedua: Di antara ulama Rafidhah yang berpendapat bahwa Al Quran telah mengalami distorsi; Ali bin Ibrahim al-Qummy yang berkata dalam tafsirnya (jilid I, hal 36): ((Di dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala (yang artinya): "Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran:110). Berkata Abu Abdillah kepada yang membaca ayat ini, "Umat yang terbaik, lantas membunuh amirul mukminin Hasan dan Husain bin Ali 'alaihima salam??" Lantas ada yang bertanya, "Bagaimana sebenarnya ayat tersebut diturunkan wahai putra Rasulullah?" Dia menjawab, "Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan: (Kalian para imam terbaik yang dilahirkan untuk manusia)")). Ketiga: Ni'matullah al- Jazairy dalam jilid II, hal 363. Keempat: Al-Faidl al-Kaasyaany salah seorang ahli tafsir mereka yang tersohor dan pengarang Tafsir ash-Shafy, berkata dalam tafsirnya (jilid I, hal 49), ((Kesimpulan yang dapat diambil dari berita-berita ini dan riwayat-riwayat lainnya yang berasal dari ahlul bait 'alaihis salam bahwasanya Al Quran yang ada di hadapan kita ini tidaklah sempurna, sebagaimana yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Akan tetapi di dalamnya terdapat hal- hal yang tidak sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah. Di dalamnya ada yang diubah dan banyak pula yang telah dihapus; seperti nama Ali dari berbagai ayat, lafadz aalu (keluarga) Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, nama-nama kaum munafikin dan hal-hal lainnya. Juga Al Quran tersebut tidak sesuai dengan susunan yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam)). Kelima: Ahmad bin Manshur Ath- Thabarsy dalam kitabnya al- Ihtijaj (jilid I, hal 55) telah menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala tatkala menceritakan kisah-kisah yang berkenaan dengan dosa-dosa dalam Al Quran, Allah telah menyebutkan secara terang- terangan nama para pelaku dosa tersebut. Akan tetapi para sahabat telah menghapus nama- nama tersebut, jadilah kisah- kisah itu disebutkan tanpa nama-nama pelakunya. Keenam: Berkata Muhammad bin Baqir Al Majlisy dalam kitabnya Bihaar al- Anwar (jilid 89 , hal 66): ((Bab distorsi dalam ayat-ayat Al Quran, sehingga tidak sesuai lagi dengan apa yang diturunkan oleh Allah)). Ketujuh: Muhammad bin Muhammad an- Nu'man yang dijuluki al-Mufid dalam kitabnya Awaail al- Maqaalaat (hal 91 ). Kedelapan: Abul Hasan Al 'Aamily dalam muqaddimah kedua dari kitab tafsirnya Mira'ah al-Anwar wa Misykaah al-Asraar (hal 36) menyatakan, ((Ketahuilah, sesungguhnya Al Haq yang kita tidak bisa elakkan -berdasarkan kabar-kabar yang mutawatir ini dan lainnya- bahwa Al Quran yang ada di hadapan kita, telah diubah sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya orang-orang yang mendapatkan tugas untuk menyampaikan Al Quran telah menghapus banyak kata-kata dan ayat-ayat)). Kesembilan: Abul Qasim al-Khuu'iy (Ulama kontemporer syiah) dalam kitabnya al-Bayan (hal 236). Dengarlah Adnan al-Waa'il yang memberikan contoh salah satu distorsi yang dialami Al Quran: ((Ketika turun ayat (yang artinya) "Hai para rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu tentang Ali. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan amanatnya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia." (QS Al Maaidah: 67)). FAKTA KETIGA: Syi'ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai para sahabat rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan ummahatul mu'minin. Keutamaan sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan tingginya kedudukan serta derajat mereka, sudah merupakan sesuatu yang diketahui oleh semua orang. Hal itu juga termasuk hal-hal yang diketahui dari agama Islam secara dharurah. Ini disebabkan karena melimpahnya dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut, baik dari Al Quran maupun As Sunnah. Sekarang bukan waktunya untuk menyebutkan semua dalil-dalil itu, akan tetapi barangkali kami akan menyebutkan sebagian saja: Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
((مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْأِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً)) الفتح:29
"Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya. Tanda-tanda mereka, tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam- penanamnya, karena Allah menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang- orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih diantara mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al Fath: 29) Ayat yang mulia ini mencakup seluruh sahabat karena mereka semua bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Menguatkan apa yang telah lalu: hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim; dari al- A'masy, dari Abu Shalih, dari dari Abu Sa'id dia berkata: ((Pada suatu saat terjadi suatu masalah antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin 'Auf, lantas Khalid memaki Abdurrahman. Ketika mendengar hal itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah kalian memaki salah seorang dari sahabatku, sesungguhnya jika salah seorang dari kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud niscaya tidak akan dapat menyamai (pahala) satu genggam atau setengah genggam (nafkah) salah seorang dari mereka." Hadits ini juga mencakup seluruh sahabat, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah kalian memaki salah seorang dari sahabatku." Syi'ah dan Penghinaan Mereka Terhadap Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Dalam kitab ar-Raudhah min al- Kafi (hal 245) disebutkan, ((Dari Hanan, dari bapaknya, dari Abu Ja'far 'alaihis salam, ia berkata, "Sesungguhnya para manusia telah murtad sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali hanya tiga orang." Lantas aku bertanya: "Siapakah tiga orang itu?" Dia menjawab: "Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary dan Salman al- Farisy.")). Ash-Shafy dalam tafsirnya (jilid V, hal 28 ) berkata, ((Dari Abdurrahman bin Katsir, dari Abu Abdillah, dalam firman Allah (yang artinya), "Sesungguhnya orang- orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka." (QS. Muhammad: 25 ). Dia berkata, "fulan dan fulan", yang dia maksud adalah Abu Bakar dan Umar)). Berkata Ni'matullah al-Jazairy dalam kitabnya al- Anwar an- Nu'maniyah (jilid I, hal 53), ((Telah diriwayatkan dalam berita-berita khusus bahwa tatkala Abu Bakar sholat di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dia menggantungkan berhala di lehernya, dan sujudnya adalah untuk berhala itu)). Na'udzubillah dari kedustaan ini! Dengarlah salah seorang syaikh orang Syi'ah yang tanpa tedeng aling- aling melaknat Ash Shiddiq, ((Para ulama Syi'ah telah bersaksi bahwa ada riwayat- riwayat valid yang kevalidannya melahirkan dalil-dalil atas si penjahat Abu Bakar, hal tersebut karena adanya dia di masjid dan kembalinya dia dari pasukan pertama. Kedua melanggar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketiga tidak sholatnya dia bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Semoga Allah melaknat Abu Bakar! Dengarlah wahai siapa yang berkata, Tidak boleh melaknat. Semoga Allah melaknat Abu Bakar!, semoga Allah melaknat Abu Bakar!, semoga Allah melaknat Abu Bakar! Dan semoga Allah melaknat Umar dan para pembangkang lainnya! Semoga Allah melaknat siapa saja yang tidak rela dengan dilaknatnya mereka! Kebencian-kebencian umat ini...)). Dengan busuknya Ni'matullah al- Jazary berkata dalam kitabnya al-Anwar an- Nu'maniyah (jilid I, hal 63), ((Konon Umar terkena penyakit di duburnya dan tidak bisa disembuhkan kecuali dengan air mani para lelaki)). Berkata Zainudin al-Bayadhy dalam kitabnya ash-Shirath al- Mustaqim ila Mustahiq at-Taqdim (jilid III, hal 129), ((Sebenarnya Umar itu telah menyembunyikan kekufuran dan memperlihatkan keislaman)). Dalam kitab al-Anwar an- Nu'maniyah milik Ni'matullah al- Jazairy (jilid I, hal 81 ) disebutkan, ((Telah disebutkan dalam riwayat-riwayat khusus bahwasanya syaitan dibelenggu dengan 70 belenggu dari besi jahanam lantas digiring ke padang mahsyar, tiba-tiba sesampainya di sana dia melihat seseorang di depannya yang ditarik oleh malaikat azab dan di lehernya terdapat 120 belenggu dari belenggu-belenggu jahanam, dengan terheran-heran syaitan itu mendekat lantas bertanya, "Apa yang dikerjakan orang yang amat malang ini hingga siksaannya jauh lebih berat dariku? Padahal aku telah menyesatkan para makhluk hingga aku masukkan mereka ke dalam pintu-pintu kebinasaan." Maka berkatalah Umar (Maksudnya makhluk malang yang dibelenggu dengan 120 rantai neraka jahanam adalah amirul mu'minin Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu! Qaatalahumulloh!-pen) kepada si syaitan, "Tidak ada yang kukerjakan melainkan hanya merampas kekhilafahan Ali bin Abi Thalib.")). Di antara yang dituduhkan gerombolan orang- orang Rafidhah terhadap amirul mukminin Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu; apa yang disebutkan oleh Zainuddin al- Bayadhy dalam kitabnya ash- Shirath al-Mustaqim ila Mustahiq at-Taqdim (jilid III, hal 30), ((Pada suatu saat di zaman Utsman didatangkan seorang perempuan untuk dihukum hadd, lantas oleh Utsman perempuan tersebut dizinai terlebih dahulu baru kemudian diperintahkan untuk dirajam)). Belum puas Rafidhah dengan tuduhan keji ini, bahkan dalam kitab yang sama dan halaman yang sama disebutkan bahwa Utsman itu termasuk orang- orang yang dipermainkan (para laki-laki) dan bertingkah laku seperti perempuan, serta suka main rebana. Dengarlah bagaimana Hasan ash- Shaffar berbangga karena Rafidhah-lah yang telah membunuh Utsman radhiallahu 'anhu, ((Sesungguhnya Syiah-lah yang telah membunuh Utsman, semoga Allah memberikan pahala yang baik buat mereka)). Al-Majlisy dalam kitabnya Bihaar al-Anwar (jilid XXX, hal 237) berkata, ((Kisah-kisah yang menerangkan kekafiran Abu Bakar dan Umar, penyelewengan mereka, serta pahala orang yang melaknat dan berlepas diri dari mereka dan dari bid'ah- bid'ah mereka amat sangat banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau dalam buku yang berjilid-jilid lainnya)). Muhammad al-'Ayasyi dalam tafsirnya (jilid III, hal 20) surat an-Nahl:
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ
"Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan." (QS. An Nahl: 90 ) Al-'Ayasyi berkata: Al- Fahsyaa (perbuatan keji) yaitu yang pertama (maksudnya Abu Bakr), al-Munkar (kemungkaran) yaitu yang kedua (maksudnya Umar al-Faruq), al-Baghy (permusuhan) yaitu yang ketiga (maksudnya: Utsman bin Affan). Semoga Allah meridhai seluruh shahabat. Bahkan al-Majlisy dalam (jilid XXX, hal 235) menukil dari Tafsir al- Qummy dalam firman Allah ta'ala,
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
"Katakanlah: aku berlindung dari Rabb al Falaq." Al-Falaq adalah kawah di Jahanam, seluruh penghuni neraka memohon perlindungan kepada Allah darinya karena saking panasnya, lantas kawah itu minta izin untuk bernafas, maka diizinkanlah, akibatnya terbakarlah neraka jahanam. Dan di dalam kawah tersebut ada sebuah peti yang mana penghuni kawah tersebut memohon perlindungan kepada Allah darinya karena saking panasnya. Peti itulah yang dinamakan Tabut. Di dalam Tabut itu ada enam orang terdahulu dan enam orang yang hidup setelah zaman mereka. Adapun enam orang yang hidup setelah zaman mereka adalah: nomor pertama, kedua, ketiga dan keempat. Nomor pertama maksudnya Abu Bakar, yang kedua maksudnya Umar, yang ketiga Utsman dan yang keempat Mu'awiyah radhiallahu 'anhum. Al-Majlisy berkata dalam (jilid XXX, hal 237), ((Keterangan tentang dua orang Arab badui yang pertama dan kedua -yakni Abu Bakar dan Umar-, yang tak pernah beriman kepada Allah sekejap mata pun)). Wa la haula wa la quwwata illa billah! Belum cukup Rafidhah sampai sini, bahkan mereka melampaui batas hingga 'menyerang' Ummahatul Mukminin. Berkata Ja'far Murtadho dalam bukunya Hadits al-Ifk (hal 17), ((Sesungguhnya kami meyakini, sebagaimana (keyakinan) para ulama-ulama besar kami pakar pemikiran dan penelitian, bahwa isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun berpeluang untuk kafir sebagaimana istri Nuh dan istri Luth)), dan yang dimaksud istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di sini adalah 'Aisyah. Hasyim al- Bahrany berkata dalam tafsirnya al-Burhan (jilid IV, hal 358) surat at-Tahrim, ((Berkata Syarafuddin an-Najafy, "Diriwayatkan dari Abu Abdillah 'alaihis salam bahwa dia berkata dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala:
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ
"Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang- orang kafir." (QS. At Tahrim: 10) Perumpamaan ini Allah buat untuk Aisyah dan Hafshah, karena keduanya demo terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan membuka rahasianya)). Ali bin Ibrahim al- Qummy berkata, ((Lantas Allah membuat perumpamaan untuk 'Aisyah dan Hafshah dan berkata, "Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba- hamba kami, lalu kedua istri itu berkhianat." Demi Allah yang dimaksud dengan berkhianat tidak lain hanyalah berzina (na'udzubillah). Niscaya akan dilakukan hukum had atas fulanah (yang dia maksud adalah 'Aisyah) atas apa yang dikerjakannya di jalan Bashrah. Dikisahkan bahwa fulan (yang dia maksud Thalhah) mencintai 'Aisyah. Tatkala 'Aisyah akan safar ke Bashrah, berkatalah Thalhah, "Kamu itu tidak boleh safar kecuali dengan mahram." Lantas Aisyah mengawinkan dirinya dengan fulan, dalam suatu naskah disebutkan dengan Thalhah)). Berkata Muhammad al-'Ayasyi dalam tafsirnya (jilid XXXII, hal 286) surat Ali Imran, dari Abdush Shamad bin Basyar dari Abi Abdillah radhiallahu 'anhu ia berkata, "Tahukah kalian Nabi itu meninggal atau dibunuh? Sesungguhnya Allah berfirman,
أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ
"Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)." (QS. Ali Imran: 144). Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah diracuni sebelum wafatnya, dan mereka berdualah yang meracuninya (yakni 'Aisyah dan Hafshah)! Sesungguhnya dua perempuan tersebut dan bapak mereka adalah sejahat-jahat ciptaan Allah! Wa la haula wa la quwwata illa billah! Belum cukup al-Majlisy sampai di situ, bahkan dia berkata dalam kitabnya Bihar al-Anwar (jilid XXXII, hal 286), ((Dari Salim bin Makram dari bapaknya ia berkata, Aku mendengar Abu Ja'far 'alaihis salam berkata di dalam firman Allah,
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ
"Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan- perlindungan selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba." (QS. Al Ankabut: 41). Laba-laba itu adalah al-Humaira (Aisyah-pen). Kenapa dimisalkan dengan laba-laba? karena dia adalah binatang yang lemah dan membuat sarang yang lemah; begitu pula al-Humaira (yakni Aisyah), dia itu binatang yang lemah, lemah kedudukan dan akal serta agamanya. Hal itu menjadikan pendapatnya lemah dan akalnya yang tolol, hingga melakukan pelanggaran dan permusuhan terhadap Tuhannya. Persis dengan sarang laba-laba yang lemah!)) -bersambung insya Allah-
Selengkapnya...